Bangli (ANTARA) - Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli secara aktif mengembangkan potensi kuliner lokal melalui kelompok usaha minuman tradisional Loloh Cemcem untuk mendongkrak ekonomi warga.
“Awal pengembangan Loloh Cemcem yang ada di Penglipuran sebagai usaha warga ya itu. Dimana dulunya apabila ada kegiatan-kegiatan kepahlwanan, kegiatan lainnya di Penglipuran, yang disuguhkan pertama adalah loloh cemcem itu dan dibuat oleh kader PKK,” kata Kepala Desa Penglipuran Wayan Agustina di Bangli, Jumat.
Melihat potensi pasar yang menjanjikan, pihak desa kini secara aktif mengolaborasikan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas serta daya saing para pelaku usaha rumahan tersebut.
“Dukungan yang diberikan, nah pertama itu memang dari cara packaging (kemasan), kehegenisan dan kami mengajak masyarakat sebagai pengusaha loloh cemcem pelatihan. Entah kami itu mendatangkan pemerintah maupun pihak ketiga untuk memberikan pelatihan,” katanya.
Wayan menjelaskan produk herbal yang awalnya hanya diproduksi untuk keperluan internal desa ini, kini sukses bertransformasi menjadi salah satu tumpuan utama penggerak roda ekonomi harian warga setempat seiring tingginya kunjungan wisatawan.
"Pastinya dengan adanya usaha ini, membawa dampak positif dengan adanya loloh cemcem yang memang diminati khususnya wisatawan maupun warga lokal bali pada umumnya. Sehingga masyarakat kami bisa memproduksi minuman ini setiap harinya. Jadi pagi di produksi, dikemas dan langsung disebarkan. Pastinya ada income atau pendapatan," jelas Wayan.
Salah satu pengusaha Loloh Cemcem yang telah konsisten memproduksi minuman ini selama kurang lebih 25 tahun adalah Ni Ketut Muliati.
Demi menjaga kesegaran produk hingga ke tangan konsumen, proses pengolahan pun dikerjakan sejak dini hari.
"Mulai produksi kurang lebih sudah 25 tahun. Untuk produksinya setiap hari dari jam 2 pagi sampai selesai, karena biar produknya sampai di konsumen agar fress ," ungkap Muliati.
Muliati menjelaskan bahwa resep minuman tradisional ini memanfaatkan paduan bahan alami seperti daun cemcem, cabe, garam, gula, asam jawa, dan daging kelapa sebagai isiannya.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi harian, bahan baku daun cemcem diperoleh secara mandiri maupun dibeli langsung dari luar daerah, seperti Kabupaten Tabanan dan Karangasem.
Cara pembuatan loloh cemcem ini terbilang mudah, pertama daun cemcem (kedondong hutan) dicuci bersih lalu diremas bersama air matang lali disaring untuk diambil sarinya.
Kemudian buat kuah bumbu dengan merebus gula aren, asam jawa, cabai, terasi, dan garam hingga larut. Lalu saring dan biarkan dingin.
Langkah terakhir Adalah mencampurkan sari daun hijau dengan rebusan bumbu tersebut, lalu tambahkan kerokan daging kelapa muda dan sajikan. Harga jual loloh cemcem sendiri dihargai Rp.6.000 per botol.
“Pendapatan lumayan yang didapat untuk kehidupan sehari-hari,” tutur Muliati mengenai kontribusi usaha tersebut terhadap finansial keluarganya.
Meski demikian, adanya kendala musiman serta keterbatasan jangkauan distribusi, terutama untuk wilayah Bali Barat.
“Tantangannya ada di musim hujan dan musim gugur, yak karena orang-orang itu tidak terlalu haus, kalau musim gugur dari bulan Juli sampai November. Untuk penjualannya sudah sampai seluruh Bali, cuman di Negara belum karena jarak pengiriman yang jauh,” katanya.
Di sisi lain, keunikan rasa dan khasiat kesehatan dari minuman khas ini terbukti memberikan kesan positif bagi sektor wisata di Desa Penglipuran.
Sugeng Priyono, salah satu wisatawan yang sering berkunjung ke Desa Penglipuram mengatakan Loloh Cemcem telah menjadi buruan wajib karena dinilai berkhasiat sebagai obat tradisional.
“Sering ke Bali, pasti cari loloh cemcem, karena ini obat tradisional yang menyembuhkan penyakit dalam, seperti panas dalam. Ini kan khas desa penglipuran, yang bisa menambah daya tarik atau destinasi di Bali,” pungkas Sugeng.
Pewarta: Tim Redaksi Antara BaliEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.