Buleleng (ANTARA) - Kerajinan gerabah warisan nenek moyang di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, tetap bertahan sampai saat ini, bahkan menjadi penyedia utama perlengkapan upacara keagamaan Hindu di seluruh pelosok Bali.

"Sudah dari tahun 1985 saya mulai bikin gerabah sampai hari ini. Memang begitulah kebiasaan kami, diajarkan orang tua lalu diteruskan ke anak cucu," kata perajin sekaligus pemilik usaha gerabah, Kadek Sariani, di Singaraja.

Ia menjelaskan hampir seluruh produk gerabah yang dihasilkan di Banyuning digunakan untuk pemenuhan sarana upacara dan upakara.

Salah satu produk yang permintaannya paling tinggi  adalah Payuk Kedas, yang  menjadi komponen utama dalam prosesi penguburan atau kremasi.

"Biasanya dipakai saat upacara Ngaben, mulai dari prosesi Siramang (memandikan jenazah), saat membakar jenazah, sampai tahap Pelodekan untuk menghancurkan tulang belulang, semuanya pakai buatan kami," ujarnya.

Dalam proses produksinya, para pengerajin di Banyuning sejauh ini masih mempertahankan metode tradisional yang di wariskan secara turun temurun oleh nenek moyang.

Tranformasi dari dulu hingga saat ini hanya pada proses penggilingan tanah liat yang menggunakan mesin agar menghasilkan tekstur yang lebih halus.

"Kalau tanahnya sudah halus, kami bentuk satusatu pakai tangan. Kalau yang ukurannya kecil, dalam waktu kurang dari setengah hari saja sudah bisa dapat sampai 200 buah," tutur Sariani menambahkan.

Bahan utama dalam proses pembuatan grabah yaitu tanah liat yang didatangkan langsung dari beberapa wilayah seperti Desa Alasangker, Pengelatan, hingga Tenaon guna menjaga kualitas gerabah.

Meski demikian, la mengakui tantangan musiman seperti cuaca. Saat musim hujan tiba, proses penjemuran gerabah kerap terhambat sehingga menunda penyelesaian produksi. Namun di sisi lain, serapan pasar dari pengepul justru sangat stabil bahkan meningkat setiap tahunnya.

Namun di selain konsistensi pasar, tantangan terbesar yang dihadapi industri rumahan ini adalah regenerasi, karena semakin sedikit generasi muda yang tertarik menggeluti usaha pembuatan gerabah.

Kekhawatiran itu diakui Dewi Darma, penerus usaha gerabah dari Kadek Sariani. Mahasiswi yang saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi tersebut menjadi salah satu dari sedikit anak muda yang bertekad meneruskan usaha warisan keluarga tersebut.

"Memang sekarang sudah jarang anak muda yang tertarik meneruskan usaha ini. Kebanyakan lebih milih sekolah atau kuliah dulu. Tapi saya sendiri bertekad mau melanjutkan warisan ini, sayang sekali kalau sampai putus," ucap Dewi.

Menurut Dewi, eksistensi usaha gerabah ini sebenarnya sangat menjanjikan secara ekonomi untuk menopang kebutuhan sehari-hari, mengingat pasarnya yang tidak akan pernah mati.

"Kalau menurut saya, usaha ini lumayan menguntungkan. Lagipula, selama umat Hindu masih melaksanakan upacara, kebutuhan gerabah ini pasti tidak akan habis," katanya menegaskan.

 



Pewarta: Tim Redaksi Antara Bali
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026