Denpasar (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Haji (Kemenhaj) Bali memberikan edukasi manasik haji ke siswa di Bali.

“Edukasi tentang manasik haji dikenalkan agar anak-anak tahu bagaimana prosesi haji, tentunya akan menjadikan penguat ke depan bagaimana anak-anak tersebut bisa menjalankan ibadah haji dengan baik dan tentunya cita-cita seluruh umat Islam untuk berhaji,” kata Kepala Kanwil Kemenhaj Bali Mahmudi.

Kemenhaj Bali di Denpasar, Sabtu, memulai edukasi kepada siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau setara sekolah dasar dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara SMP, namun ke depan membuka peluang edukasi juga diberikan ke sekolah umum.

Dalam program ini, Mahmudi melihat yang menjadi tantangan adalah perlunya kesabaran dalam menjelaskan dan mendidik anak-anak, sebab mereka cenderung sangat aktif dan belum semuanya fokus dalam menerima penjelasan.

Pun apabila edukasi manasik haji diberikan ke siswa sekolah umum juga diyakini yang menjadi tantangan adalah keaktifan siswa bukan perbedaan keberagaman, sebab di Bali moderasi beragama sangat baik.

“Saya pikir keberagaman tidak ada pengaruh dan akan lebih bisa memoderasi agama di saat sekolah umum bisa dikenalkan tentang manasik haji, saya pikir juga agama lain pun sangat bisa menerima karena tahu haji ini bagian daripada rukun Islam,” ujar Mahmudi.

Kemenhaj Bali memandang pengetahuan manasik haji pada generasi muda saat ini juga penting mengingat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 resmi mengatur anak usia 13 tahun sudah bisa mengikuti ibadah haji.

Di Bali kerap kali anak usia di bawah 17 tahun menjalankan ibadah haji karena menggantikan orang tuanya, seperti musim ini, dimana anak usia 14 tahun menjadi jemaah haji termuda Bali.

Ini menunjukkan pentingnya edukasi kepada generasi muda, menyusul mulai trennya pembelajaran manasik haji di Bali seperti di Jembrana yang bahkan memiliki miniatur Ka’bah.

Sementara itu, Kepala Yayasan Mutiara Bunda Bali Sri Utami mengatakan pendidikan manasik haji ini perdana dilakukan di sekolah dengan jumlah peserta yang besar.

Sebanyak 450 siswa terdiri dari PAUD, MI, dan MTs diikutsertakan dengan mengambil waktu bersamaan momen bulan haji, dengan harapan edukasi ini tertanam sejak dini.

“Sehingga mereka memiliki gambaran bahwa nanti ketika dewasa, akan melaksanakan ibadah haji, ini juga penanaman karakter bagaimana mereka belajar bersabar, mengantri, kemudian belajar untuk memahami aturan,” tuturnya.

Pihak sekolah sendiri terlibat dalam penyiapan area simulasi, seperti Ka’bah dan pelatarannya, Mas'a , ada Wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah, Tawaf di depan Ka’bah, Sai, dan Tahalul.

“Itu semua disimulasikan seakan-akan kita berada di sana, kemudian bacaan apa ketika dari Hajar Aswad ke Rukun Yamani dan lainnya disimulasikan, termasuk hotel-hotel itu ruang kelas dipakai sesuai kloter,” kata Sri Utami.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026