Denpasar (ANTARA) - Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Denpasar mengoptimalkan peran personel yang ada untuk berjaga di pintu masuk Bali guna mengantisipasi penyebaran hantavirus.
“Di bandara jumlah personel sekitar 37 (orang), jadi rata-rata per sifnya itu ada 10-11 orang, tapi nanti kalau memang sangat musim tinggi kunjungan kita bisa berdayakan selalu,” kata Kepala BBKK Denpasar Heri Saputra di Denpasar, Rabu.
Selain di Bandara I Gusti Ngurah Rai, kata dia, penempatan personel juga dilakukan di pintu pelabuhan dengan sistem sif, seperti di Pelabuhan Benoa dengan sembilan personel, Pelabuhan Celukan Bawang (11), Pelabuhan Padangbai (11), dan Pelabuhan Gilimanuk (12).
“Kita efektifkan yang ada tapi kalau misalnya mereka butuh bantuan kami siap juga dari induk untuk melakukan perbantuan ke daerah, tapi sejauh ini masih aman,” ucapnya.
Meski belum ditemukan suspek hantavirus di Bali, BBKK Denpasar mengatakan penempatan personel dilakukan untuk cegah tangkal, melalui proses pemeriksaan suhu bahkan pemeriksaan langsung kondisi di dalam kapal.
Tentang alur, kata dia, apabila petugas menemukan penumpang bergejala maka akan dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat dan ambulans yang ditumpangi dilakukan sterilisasi.
Heri juga memastikan petugas BBKK Denpasar yang ditempatkan di pintu-pintu masuk Bali sudah ahli dan sesuai dengan kebutuhan, dengan menempatkan tenaga dokter, epidemiolog, perawat, dan pengemudi ambulans.
“Kami akan lihat orang yang lalu-lalang itu kalau dia demam di atas 38 derajat, langsung kami screening, kemudian di kapal pesiar banyak juga ke Bali terutama Pelabuhan Benoa dan Celukan Bawang itu kami siagakan petugas yang selalu melihat kondisi kapal, dia akan naik lihat dapurnya ada tikus atau tidak, lihat sekitarnya juga,” ujarnya.
Sejauh ini, BBKK Denpasar melihat belum ada kapal yang bermasalah dalam hal kebersihan, terutama kapal pesiar yang mengangkut wisatawan asing.
Namun demikian, ia menyatakan bahwa pihaknya tetap memberi edukasi mengenai kebersihan.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026