Badung, Bali (ANTARA) - Puluhan masyarakat yang berasal dari berbagai kalangan diedukasi mengolah sampah berbasis masyarakat dan kearifan lokal untuk menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan program Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasi) yang diinisiasi oleh Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) dengan dukungan UNDP Indonesia serta melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat adat Bali di Gradasi Center, Longstorage Tukad Mati, Kuta, Kabupaten Badung, Kamis.
Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Bali Nusra Awang Erry Sofyar Irawan mengatakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan kearifan lokal merupakan langkah nyata untuk mendukung upaya pengurangan sampah.
Ia menjelaskan permasalahan pengelolaan sampah merupakan tantangan besar yang dihadapi bangsa ini, apalagi Indonesia juga sedang mengalami krisis pengelolaan sampah.
"Dalam konsep perencanaan pembangunan nasional, pemerintah menetapkan target pengelolaan sampah sebesar 51,2 persen untuk tahun 2025, kita ditargetkan tahun 2026 adalah 63,4 persen. Tahun 2029, ditargetkan mencapai 100 persen," katanya.
Karena itu, pihaknya berharap target tersebut bukan sekedar angka statistik, melainkan bentuk komitmen negara untuk memastikan bahwa setiap daerah mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan mulai dari hulu sampai hilir.
Ia menyebut tantangan yang masih dihadapi bersama mulai dari kualitas perencanaan yang belum optimal, rendahnya partisipasi sebagai pemangku kepentingan, keterbatasan pendanaan operasional, kualitas layanan pengolahan sampah yang belum merata, hingga kelembagaan pengelolaan sampah yang masih perlu diperkuat kembali.
Sementara itu, Sekretaris Dinas KLH Bali Putu Ayu Puryani menyatakan persoalan sampah masih menjadi tantangan yang sangat serius, peningkatan volume sampah, terutama di kawasan perkotaan dan destinasi wisata menuntut tidak hanya mengandalkan pendekatan teknis semata.
"Kita membutuhkan penguatan pendekatan nonteknis melalui perubahan perilaku, pendidikan lingkungan, serta pembangunan budaya, disiplin, dan pengelolaan sampah," ungkapnya.
Karena itu, kegiatan hari ini memiliki makna yang sangat penting untuk fasilitasi dalam penyediaan fasilitas kompostel dan peningkatan kapasitas pemilahan sampah untuk dilakukan secara bersama. Pihaknya menyadari keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya dilakukan secara parsial.
Permasalahan membutuhkan sinergi berbagai sektor, pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, komunitas, juga masyarakat setempat.
Keberhasilan pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan satu pihak saja, tetapi dibutuhkan kolaboratif.
Pihaknya berharap komunitas Sekhe Resik Bali dapat menjadi contoh dan penggerak di tengah masyarakat bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah yang sederhana, memilah dari rumah, mengurangi sampah organik melalui kompos, serta membangun kebiasaan hidup yang lebih bertanggung jawab.
Sementara itu, Wakil Ketua Sekhe Resik Bali Siti Rosidah mengatakan inisiatif edukasi pengolahan sampah berbasis sumber tersebut sejalan dengan upaya percepatan penanganan sampah di Bali, yakni Pemerintah Provinsi Bali menargetkan penutupan total TPA Suwung pada 1 Agustus 2026.
Melalui pendekatan berbasis komunitas dan nilai-nilai lokal, program ini mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam pengelolaan sampah dari sumbernya. Hal ini menjadi penting mengingat sebagian besar sampah laut berasal dari aktivitas darat, khususnya rumah tangga.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Majelis Desa Adat Bali menginisiasi gerakan “Sekhe Resik”, yang menempatkan desa adat sebagai aktor utama dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Rosi menjelaskan inisiatif ini mengedepankan sinergi antara masyarakat adat, pemerintah, dan komunitas dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan sesuai dengan konteks lokal.
Dalam rangkaian acara, dilakukan sesi serah terima fasilitas pendukung pengelolaan sampah, berupa penyerahan tong komposter sebagai drop point sampah organik kepada komunitas Gradasi, serta penyerahan perlengkapan kerja secara simbolis kepada petugas kebersihan.
Fasilitas ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah organik secara mandiri di tingkat komunitas. Kegiatan ini juga mencakup sesi edukasi dan pelatihan yang terbagi menjadi dua bagian utama.
Sesi pertama berupa edukasi pemilahan sampah dari sumber, yang memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah rumah tangga serta pemanfaatan teknologi sederhana berbasis alam dalam pengelolaan sampah organik.
Sesi kedua dilanjutkan dengan pelatihan teknis pemilahan sampah yang dilakukan secara langsung di lapangan bersama komunitas Sekhe Resik, guna memperkuat kapasitas masyarakat dalam praktik pengelolaan sampah sehari-hari.
Pewarta: Rolandus NampuEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.