Denpasar (ANTARA) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menjajaki negara-negara Eropa untuk menjadi negara tujuan pekerja migran Indonesia (PMI).

“Banyak penjajakan seperti Turki kemudian Italia, Jerman, Slovakia dan beberapa negara Eropa Timur yang lain,” ucap Menteri P2MI Mukhtarudin di Denpasar, Kamis.

Mukhtarudin usai pelepasan PMI Bali ke Bulgaria mengatakan peluang di negara-negara Eropa sedang terbuka, terutama di negara yang memasuki situasi aging population atau peningkatan jumlah penduduk lansia.

“Jadi mereka butuh perawat dan pengasuh untuk merawat orang tua atau jompo dan termasuk hospitality. Hospitality seperti di Bali ini kan PMI bukan hanya di hotel juga di kapal-kapal pesiar,” ujarnya.

Saat ini pekerja migran paling banyak ditempatkan di Taiwan, Hongkong, dan Jepang, sedangkan di Eropa yang jumlahnya tinggi tidak banyak salah satunya Bulgaria.

Sementara itu, potensi permintaan PMI besar disana, sehingga pemerintah saat ini berupaya agar masyarakat Indonesia semakin dilirik di tengah banyaknya pesaing yang juga ingin mengirim pekerja migran ke negara-negara Eropa.

Menteri P2MI menyampaikan yang disiapkan saat ini adalah kemampuan calon PMI, sebab pemerintah ingin berorientasi pada pekerja sektor formal dan profesional.

Seperti belum lama KP2MI memberangkatkan 300 pekerja berkeahlian di bidang manufaktur ke Korea Selatan, kemudian ada pula yang dikirim ke Jepang untuk bekerja di industri manufaktur mereka.

“Sekarang kita fokus persiapannya adalah sektor-sektor yang profesional, kita sudah memiliki peluang besar di negara Asia kemudian Eropa termasuk Eropa Timur, kita sudah memetakan juga di Turki dan Malaysia yang membutuhkan perawat 3 tahun ke depan sebanyak 15.000 perawat,” ujar Mukhtarudin.

Karena ketatnya persaingan dengan negara-negara lain, maka KP2MI mendorong calon PMI terus meningkatkan keahlian.

“Karena ketika kita mengalami bonus demografi, di negara lain terjadi penuaan populasi, jadi inilah salah satu upaya kita untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan,” sambungnya.

Adapun yang disiapkan pemerintah adalah kompetensi calon PMI, sebab saat ini keluaran pendidikan perguruan tinggi dan SMK belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan negara penempatan.

Belum lagi kemampuan bahasa yang paling sering menjadi tantangan, sehingga masih dibutuhkan bantuan pelatihan oleh LPK.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026