Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 agar tetap di bawah tiga persen atau berada di 2,9 persen di tengah lonjakan harga energi dunia.
“Ini sudah kami hitung semua. Nanti bahkan dengan rata-rata (harga minyak dunia) 100 (dolar AS per barel) pun kami sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen. Itu sekitar 2,9 persen. Jadi, nggak masalah,” ujar Purbaya ketika ditemui di Wisma Danantara Indonesia Jakarta, Rabu.
Adapun APBN 2026 semula diproyeksikan mengalami defisit Rp698,15 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB.
Dengan demikian, terdapat tambahan proyeksi defisit sebesar 0,12 persen akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.
Peperangan tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak dunia di pasar internasional. Harga minyak dunia jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 100 dolar AS per barel.
Angka tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel.
“Kalau (defisit) dari 2,68 persen ke 2,9 persen kan 0,12 persen kan, dari PDB. Nggak besar-besar amat,” ucap Purbaya.
Purbaya memberi catatan bahwa defisit sebesar 2,9 persen itu dengan asumsi rata-rata harga minyak dunia berada di angka 100 dolar AS per barel sampai akhir tahun.
Pewarta: Putu Indah SavitriEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026