Denpasar (ANTARA) - Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta yang terpilih menjadi Ketua Umum KONI Bali berjanji akan memimpin dengan menyusun manajemen organisasi yang lebih baik dari sebelumnya.
“Saya tidak akan pernah mengambil otoritas sendiri, tapi kolektif kolegial dalam tataran semua, sehingga betul-betul manajemen organisasi ini harus kita sempurnakan lagi, yang sudah baik kita perkuat lagi,” kata dia di Denpasar, Senin.
Giri dalam Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Bali sendiri terpilih aklamasi sebagai satu-satunya kandidat dan namanya telah tertuang dalam Keputusan No 05 Musorprov KONI Bali/3/2026 tentang Penetapan Ketua Umum KONI Provinsi Bali Masa Bakti 2026-2030.
Wagub Bali itu menyampaikan keinginannya agar manajemen organisasi KONI dapat lebih baik melalui kerja sama aktif tanpa ada yang bertindak sendirian.
Ini dilakukan demi meningkatkan prestasi atlet Pulau Dewata, seperti sejak dini organisasi bisa menyiapkan Porprov 2027 dan juga PON NTB-NTT 2028.
“Jangan sampai jelang PON baru mencari atlet, apalagi saya sudah diberikan mandat oleh insan olahraga, mari kita bersama membangun Bali melalui sektor olahraga ini," ujarnya.
Ketum KONI Bali itu mengajak seluruh cabang olahraga bersatu tidak membentuk kelompok-kelompok sendiri, ia menjanjikan kesiapan 24 jam dalam berkoordinasi menyangkut olahraga di Bali.
“Saya akan komunikasi dengan kesekretariatan pengurus lama, dan mohon nanti kalau ada potensi-potensi yang ada cabor masing-masing mumpuni yang mau duduk di kepengurusan, mohon disampaikan, sehingga betul awal ini untuk kebersamaan,” kata Giri Prasta.
Mantan Bupati Badung itu juga sudah menentukan strategi awal dalam menahkodai KONI Bali, yaitu membangun sistem olahraga terstruktur berbasis data yang juga didukung Pemprov Bali.
Selain itu pembangunan olahraga tidak hanya berfokus pada atlet, tetapi juga mencakup pelatih, ofisial, hingga ketersediaan venue yang memadai.
Giri Prasta menargetkan pembinaan dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat banjar hingga kabupaten/kota.
“Pendataan atlet harus akurat, dari banjar, desa, kelurahan, kecamatan hingga kabupaten/kota, sulit memang bicara data, tapi lebih sulit lagi kalau tanpa data,” ucapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan sains dan teknologi dalam menjaring potensi atlet, serta mendorong sinergi seluruh elemen olahraga di Bali mulai dari pengurus KONI, cabang olahraga, hingga pemerintah daerah.
“Kita akan maksimal di PON 2028, sebelumnya, Porprov 2027 di Buleleng juga jadi ajang evaluasi penting, termasuk pembinaan atlet melalui program pelatda,” tuturnya.
Menurut Wagub Bali, tidak semua cabor harus dipaksakan berkembang jika tidak didukung kondisi daerah, sehingga kearifan lokal dan potensi sumber daya harus diperhatikan juga.
Terkait anggaran KONI Bali, ia mengakui masih akan melakukan kajian lebih detail, namun terbuka peluang penambahan anggaran melalui APBD perubahan Bali jika dibutuhkan.
Menatap kepengurusan baru di Pulau Dewata, Kepala Bidang Organisasi KONI Pusat Markus Othniel Mamahit mengatakan sebenarnya kepengurusan di Bali sudah baik bahkan mampu mempertahankan prestasi 10 besar dalam PON.
Capaian tersebut tidak lepas dari dukungan penuh Pemprov Bali, pengurus cabang olahraga, serta KONI kabupaten/kota, namun kepengurusan baru harus tetap melakukan evaluasi.
“Kepengurusan yang terpilih wajib melakukan evaluasi menyeluruh agar prestasi Bali bisa lebih baik lagi pada PON mendatang di NTT dan NTB,” kata dia.
Berdasarkan catatan, Bali sendiri menempati peringkat ke-7 dari 39 peserta dengan raihan 36 emas, 38 perak, dan 60 perunggu dalam PON Aceh-Sumut 2024.
Hasil ini turun dua peringkat dibanding PON Papua 2021 yang menempatkan Bali di posisi ke-5, dan PON Jawa Barat 2016 dimana Bali berada di peringkat ke-6.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026