Denpasar (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali siaga di pos pelayanan kesehatan di jalur mudik untuk mengantisipasi sebaran campak pada anak.
“Saat ini karena ada arus mudik kami bersurat ke kabupaten/kota yang memiliki pelabuhan agar di pos kesehatan siap pemberian vaksinasi campak,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali I Gusti Ayu Raka Susanti di Denpasar, Selasa.
Raka Susanti menekankan pencegahan penularan campah mencermati mobilitas masyarakat yang tinggi saat musim mudik dan merebaknya campak pada anak di berbagai daerah.
Untuk itu, kata dia, di pos pelayanan kesehatan yang aktif 24 jam dijadikan tempat mendeteksi penyakit, terutama campak pada pemudik.
Pos yang berada di pelabuhan, seperti Pelabuhan Celukan Bawang dan Pelabuhan Gilimanuk, menjadi prioritas sehingga Dinkes Bali sudah meminta Dinkes kabupaten setempat menyiapkan vaksin dan layanannya.
“Jumlah sasaran kan tidak tahu pasti, tapi itu tergantung kabupaten/kota, mungkin sehari bawa 2-3 vial karena satunya bisa untuk 10 anak, jadi langsung diberikan di pos kesehatan selama posko,” ujar Raka Susanti.
Skema yang dilakukan adalah tenaga kesehatan di pos pelayanan kesehatan akan mewawancarai orang tua yang membawa anak usia sampai 59 bulan atau lima tahun.
Ketika ada anak yang belum mendapat imunisasi campak, kata dia, maka akan diberikan suntikan di lokasi sebagai syarat boleh menyeberang atau masuk Bali melanjutkan untuk perjalanan.
Raka Susanti menjelaskan campak bisa dicegah dengan imunisasi, sehingga upaya memperluas cakupan imunisasi dipilih untuk mencegah kasus atau penularan di tengah semangat mudik masyarakat.
Penekanan potensi campak di Bali juga dilakukan Dinkes Bali untuk mempertahankan kondisi saat ini yaitu nol kasus sepanjang 2026.
Ia mencatat hingga Maret 2026 tercatat 93 kasus suspek dengan 90 spesimen yang telah diperiksa dan belum ditemukan kasus positif di Bali.
Namun antisipasi terus dilakukan termasuk pada momentum arus mudik, mengingat tahun 2025 lalu kasus campak menyentuh jumlah 109 kasus positif.
Menindaklanjuti banyaknya kasus pada 2025, Dinkes Bali telah melakukan intervensi melalui program Outbreak Response Immunization (ORI), termasuk penyelidikan epidemiologi serta pendataan anak-anak di sekitar lokasi kasus untuk diberikan imunisasi.
“Surveilans juga dilakukan secara rutin, setiap ditemukan anak dengan gejala demam dan ruam kemerahan, petugas segera mengambil sampel untuk memastikan kasus sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat,” ujarnya.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026