Denpasar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dan pemerintah pusat mulai mempercapat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk solusi jangka panjang penanganan sampah.

“Kami di Bali sudah satu tim, gubernur, wali kota, dan para bupati, lahan sudah disiapkan, akses jalan sudah ada, dan sosialisasi kepada masyarakat juga sudah dilakukan,” kata Gubernur Bali Wayan Koster di Denpasar, Kamis.

Koster bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara menyampaikan bahwa Bali siap menjadi daerah prioritas dalam pengembangan teknologi PSEL.

Masyarakat di lokasi proyek dipastikan sudah setuju. Bahkan, lanjut dia, proyek itu dinantikan mengingat volume sampah di Pulau Dewata terus meningkat seiring pertambahan penduduk dan tingginya aktivitas pariwisata.

Pemprov Bali akan memberikan dukungan penuh agar proyek tersebut bisa segera terealisasi.

Kepada pemerintah pusat, imbuh dia, pemerintah daerah hanya meminta kejelasan waktu kerja dan progres pembangunannya agar dapat berjalan efektif.

“Kami siap mendukung apa pun yang dibutuhkan agar proyek ini berjalan lancar, isu pengolahan sampah ini sangat ditunggu masyarakat Bali, jadi kami dorong percepatannya,” ujar Gubernur Bali.

Pemerintah pusat yang diwakili Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Nani Hendiarti menyatakan komitmen untuk mengawal percepatan pembangunan PSEL, termasuk koordinasi dengan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Danantara.

Selanjutnya, pemerintah pusat akan melakukan rapat terbatas untuk membahas proyek PSEL yang masuk gelombang pertama termasuk di Bali.

Targetnya proyek PSEL akan diluncurkan di empat lokasi pada 6 April 2026 yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) termasuk di Denpasar.

“Kami mohon dukungan dari pemerintah daerah untuk segera menyelesaikan PKS antara pemda dan BUPP Danantara, termasuk komitmen jumlah volume sampah yang akan diolah setiap harinya,” ujarnya.

Rencananya, kata dia, peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek PSEL di Bali dilakukan pada akhir Juni 2026.

Sehingga, dalam masa transisi menuju operasional PSEL, pemerintah akan mengawal kebijakan penutupan TPA Suwung serta memastikan pengelolaan sampah tetap berjalan.

Dengan percepatan proyek ini, Bali diharapkan menjadi daerah pertama di Indonesia yang memiliki fasilitas PSEL skala besar, sekaligus menjadi model pengelolaan sampah terpadu bagi daerah lain di Indonesia.

Sementara itu, perwakilan Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd selaku investor dari China yang ditunjuk pemerintah pusat untuk menggarap proyek Waste-to-Energy (WtE) di Denpasar dan Bekasi mengatakan pihaknya memastikan teknologi yang digunakan di PSEL Bali akan memenuhi standar emisi Eropa sehingga tidak mencemari udara.

Selain itu, fasilitas ini dirancang dengan sistem zero limbah air (lindi), karena residu akan diproses secara maksimal sehingga tidak meninggalkan limbah yang mencemari lingkungan.

Sebagian residu bahkan dapat dimanfaatkan kembali, misalnya menjadi conblock, paving block, dan material konstruksi lainnya.

Pemerintah pusat dan investor Tiongkok juga menyiapkan bantuan tambahan berupa truk listrik pengangkut sampah untuk menunjang sistem pengelolaan sampah modern di Bali.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026