Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan penunjukan Indonesia menjadi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) tidak berkaitan dengan pengakuan Indonesia atas hubungan diplomatik dengan Israel.

Pernyataan Sugiono itu menepis anggapan terkait pengiriman ribuan pasukan ke Jalur Gaza, Palestina dinilai berisiko mengingat Indonesia saat ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

"Ini kan bukan kaitannya dalam dengan pengakuan ada hubungan atau tidak ya. Ini adalah pasukan yang ditugaskan untuk yang mendapatkan mandat untuk menjaga perdamaian, terdiri dari berbagai unsur yang tugasnya intinya adalah menjaga situasi," kata Sugiono saat memberikan keterangan pers di Washington DC, Jumat (20/2) malam waktu setempat.

Menurut Menlu, negara-negara anggota Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) yang dilibatkan dalam ISF mendapatkan mandat untuk mengirim pasukan demi menjaga situasi keamanan di Palestina.

Dalam pelaksanaan mandat ISF, setiap negara yang terlibat memiliki kesempatan untuk menyampaikan batasan pengerahan pasukan atau national caveat.

Indonesia sudah menyampaikan batasan itu kepada ISF, yakni tidak melakukan operasi militer dan pelucutan senjata atau demiliterisasi tapi menjaga masyarakat sipil di kedua belah pihak, kemudian terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan.

Indonesia yang menerima penunjukan sebagai Wakil Komandan ISF juga berperan di bidang operasional karena menjadi salah satu negara yang mengerahkan pasukan terbanyak untuk misi perdamaian di Palestina.

Dalam pertemuan perdana Board of Peace yang digelar di Donald J. Trump Institute of Peace, Washington DC, Kamis (19/2) pagi waktu setempat, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali kesiapan Indonesia mengirim 8.000 prajurit TNI untuk bertugas bersama ISF di Gaza, Palestina.



Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026