Jakarta (ANTARA) - Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang diselenggarakan pada 29 Oktober sampai 2 November 2025 akan membahas berbagai tantangan besar masa kini dengan tema utama "Aham Brahmasmi – I Am the Universe".

“Kami menyoroti para penulis, seniman, pemikir, dan pelaku seni dari negeri yang besar namun masih kurang dikenal ini, dengan harapan dunia suatu hari akan menghargai bakat mereka sebagaimana kami menghargainya,” kata Pendiri sekaligus Direktur Festival UWRF 2025 Janet DeNeefe dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Janet mengatakan lewat tema itu setiap pihak akan diajak untuk menerima kenyataan bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta. Di sisi lain manusia kini dituntut untuk menjaga kreativitas yang unik di tengah adanya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan/AI yang sangat pesat.

Maka dari itu, festival akan dirancang untuk menghadirkan percakapan yang relevan, yang kemudian melahirkan program-program yang menarik, dengan menghadirkan penulis, aktor, jurnalis, penyair, dan pemikir terkemuka dari berbagai belahan dunia.

UWRF 2025 akan menghadirkan lebih dari 200 program yang beragam dan penuh gagasan. Penulis peraih penghargaan, jurnalis ternama, serta komentator politik akan hadir dalam sesi-sesi yang dirancang untuk mendorong dialog lintas batas, menginspirasi perubahan, dan memperkuat komunitas sastra global.

Salah satunya adalah pemenang International Booker Prize 2025 yakni penulis asal India sekaligus aktivis hak perempuan, Banu Mushtaq, yang meraih penghargaan lewat debut kumpulan cerpennya Heart Lamp bersama penerjemahnya.

Ia menyebut akan hadir pula sejumlah tokoh dunia ternama, di antaranya novelis Mesir-Kanada Omar El Akkad, jurnalis Jepang sekaligus advokat #MeToo Shiori Itō, serta jurnalis Lebanon-Australia Antoinette Lattouf, bersama sejarawan terkemuka David Van Reybrouck dan William Dalrymple.

Tokoh berpengaruh lainnya yang disebut bakal menghadiri acara antara lain novelis dan jurnalis Leila S. Chudori, salah satu penulis Indonesia paling terkemuka, bersama pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, Sasti Gotama, serta penulis muda berbakat seperti Ray Shabir dan Hamzah Muhammad.

Festival turut menganugerahkan Lifetime Achievement Award 2025 kepada penyair dan penulis Indonesia, Taufiq Ismail, atas kontribusi luar biasanya terhadap kesusastraan Indonesia.

Wawan Kurniawan dan Udiarti juga menjadi dua penulis yang terpilih untuk Program Emerging Writers tahun ini.

Penulis Ratih Kumala menambahkan bahwa tahun ini karya-karya Emerging Writers juga akan diterbitkan dalam dua bahasa oleh Penguin Random House, sehingga dapat menjangkau pembaca global dengan tetap membawa nilai-nilai ke-Indonesiaan-nya.

Ia juga akan membahas novel terbarunya yang berjudul "Koloni" sebuah fabel yang menganalogikan kondisi sosial politik manusia melalui perebutan kekuasaan 200 semut dalam satu koloni dalam salah satu panel.

Dalam acara itu, Ratih turut berperan sebagai anggota Dewan Kuratorial untuk Program Emerging Writers 2025.



Baca juga: UWRF hadirkan 336 pembicara lintas negara

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor : Widodo Suyamto Jusuf

COPYRIGHT © ANTARA 2026