Buleleng (ANTARA) - Sekretaris Daerah (Sekda) Bali Dewa Made Indra menjadikan tiga desa yang dipasangi PLTS atap sebagai percontohan bagi masyarakat sekitarnya.

“Dengan memberikan proyek percontohan, masyarakat kita mulai mengenal, setelah mengenal mereka akan berupaya memahami, hitung-hitungan, analisis, dan baru menjatuhkan pilihan untuk mengikuti ini, penggunaan sumber energi terbarukan,” kata dia di Buleleng, Rabu.

Adapun tiga desa yang serentak dipasangi PLTS atap bekerja sama dengan Institute for Essential Services Reform (IESR) adalah Desa Banjarasem, Buleleng dengan PLTS 3,48 kWp dengan baterai 4,8 kWh di balai desa; Desa Baturinggit, Karangasem dengan PLTS 3,48 kWp dengan baterai 4,8 kWh di pompa air masyarakat; dan Desa Batununggul, Nusa Penida PLTS 2,46 kWp dengan baterai 5,12 kWh di sekolah dan 5,95 kWp dengan baterai 4,8 kWh di kantor camat.

“Pemasangan infrastruktur di sini adalah bagian dari cara kita mengenalkan dan meyakinkan masyarakat mudah-mudahan setelah ini masyarakat semakin banyak pasang karena sudah melihat,” ujar Dewa Indra.

Sebagai contoh di balai Desa Banjarasem, dari penggunaan listrik PLN biasa 557,14 kWh dalam 43 hari penggunaan PLTS atap mereka hanya mengeluarkan 554,48 kWh atau hemat dari sekitar Rp1,5 juta menjadi sekitar Rp700 ribu.

Pemprov Bali meyakini contoh-contoh langsung ini akan ditanyakan masyarakat, dan informasi soal efisiensi dari penggunaan panel surya akan cepat tersebar dari tetangga ke tetangga.

“Nanti ada yang bisa menjelaskan setelah itu tetangga sebelah, tetangga sebelah mulai tertarik dan kemudian semakin banyak yang pasang, itu harapan kita semua,” ujar Dewa Indra.

Chief Executive Officer (CEO) IESR Faby Tumiwa menambahkan pemilihan tiga desa atau empat titik percontohan ini memiliki tujuan, seperti di balai desa tempat berkegiatan masyarakat yang bisa menjadi simbol kemanfaatan energi bersih, kemudian sebagai pemompa air untuk memberikan akses air bersih masyarakat, lalu untuk mendukung layanan publik dengan energi hijau di kantor camat, dan di sekolah sebagai contoh mendukung pendidikan yang berkelanjutan bagi generasi penerus Bali.

“Di bawah sinar mentari Bali yang hangat, kita bisa memanfaatkan anugerah alam untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, Pulau Dewata memiliki kondisi ideal untuk pengembangan energi surya tapi potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal baru 1 persen dari potensi yang ada yang dikonversi menjadi energi listrik,” ujarnya.

Oleh karena itu, IESR sejalan dengan cita-cita Pemprov Bali ingin mendorong transisi energi lebih cepat, sehingga Bali lepas dari ketergantungan bahan bakar fosil.

Belum lagi saat ini wisatawan mancanegara menaruh perhatian lebih terhadap pariwisata berkelanjutan, dengan mengembangkan energi surya, menurut Faby Bali menunjukkan kepemimpinan dalam pariwisata berkelanjutan dan menjadi contoh bagi destinasi wisata lain di seluruh dunia.

“Energi surya memiliki keunggulan yang tidak terbantahkan, sumbernya tidak akan pernah habis, energi surya tidak pernah ingkar janji, lalu teknologi PLTS semakin efisien dan semakin murah, semakin terjangkau, harga baterai yang hari ini semakin turun, dan perawatannya sangat minim dengan umur operasional hingga 25 tahun,” kata Faby Tumiwa.

 

Baca juga: APSA bahas peluang tercapainya 500 MW PLTS di Bali

Baca juga: Yayasan edukasi laut buktikan PLTS bukan hanya komersial

Baca juga: Bali andalkan PLTS Atap solusi cadangan listrik kurang

Baca juga: IESR jajaki desa di Bali punya potensi terapkan energi terbarukan



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Widodo Suyamto Jusuf

COPYRIGHT © ANTARA 2026