Singaraja, Bali (ANTARA) - Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali I Ketut Trika Adi Ana secara resmi menyerahkan media huruf khusus untuk penderita disleksia kepada Disdikpora Buleleng sebagai langkah penting mendukung pendidikan inklusif di daerah tersebut.
"Hal ini kami lakukan sebagai upaya mendukung program pengentasan siswa yang belum bisa baca tulis, terutama mereka yang mengalami disleksia" kata Tri Adi Ana di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Selasa.
Ia menjelaskan media berupa bacaan dengan huruf khusus yang diberi nama "TrikaIndoDyslexic" berasal dari Pusat Unggulan Pendidikan Inklusif dan Perdamaian Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Ia menjelaskan media tersebut hasil inovasi riset yang dirancang secara khusus untuk membantu anak-anak dengan disleksia di Buleleng.
Adapun bentuknya berupa visual agar lebih mudah membedakan huruf-huruf yang mirip. Font ini menggabungkan pendekatan visual dan mnemonik untuk memperkuat proses identifikasi huruf secara unik dan fungsional.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng Putu Ariadi Pribadi menyampaikan apresiasi atas kontribusi Pusat Unggulan Pendidikan Inklusif dan Perdamaian Undiksha dalam mengembangkan solusi nyata bagi peningkatan literasi siswa, khususnya mereka yang mengalami hambatan membaca akibat perbedaan cara belajar, termasuk disleksia.
“Terima kasih atas dukungan dan inovasi yang luar biasa ini. Kami berharap kolaborasi semacam ini terus terjalin agar permasalahan pendidikan di Buleleng bisa diatasi secara lebih menyeluruh dan tepat sasaran,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, media font TrikaIndoDyslexic akan disebarluaskan ke seluruh sekolah dasar (SD) di Kabupaten Buleleng, sedangkan Disdikpora akan segera menyelenggarakan pelatihan implementasi bagi guru-guru SD untuk memastikan penggunaan font ini dapat dilakukan secara efektif dalam proses pembelajaran.
Penyerahan media font tersebut menandai awal dari integrasi teknologi dan riset pendidikan inklusif dalam skala yang lebih luas di kabupaten ujung utara daerah dengan sebutan "Pulau Dewata" tersebut.
Dia berharap, langkah itu akan menjadi tonggak penting dalam mendorong sistem pendidikan yang lebih ramah, adil, dan menjangkau seluruh potensi anak didik, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan belajar khusus.
Pewarta: IMBA Purnomo/Rolandus NampuEditor : Widodo Suyamto Jusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2026