Oleh I Ketut Sutika

Denpasar (Antara Bali) - Hiruk pikuk keseharian sirna ditelan keheningan, hanya suara alam dan kicauan burung yang terdengar di sela-sela pepohonan tertiup angin, saat umat Hindu di Bali menunaikan ibadah Tapa Brata Penyepian, peralihan tahun baru saka dari 1934 ke tahun baru saka 1935, pada hari Selasa, 12 Maret 2013.

Bali berpenduduk 3,89 juta jiwa, yang setiap harinya menerima tidak kurang dari 10.000 wisatawan mancanegara langsung terbang dari negaranya itu, kondisinya menjadi sunyi-senyap, bagaikan pulau mati tanpa penghuni.

Suasana lengang jauh dari kebisingan mesin kendaraan bermotor itu terasa mampu mewujudkan kedamaian, keheningan dan bebas polusi, tutur Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi M Par.

Umat Hindu pada peralihan tahun yang jatuh setiap 420 hari sekali itu, wajib melaksanakan empat pantangan yang meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak melakukan aktivitas), Amati Lelungan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan, yakni tidak mengumbar hawa nafsu maupun tidak mengadakan hiburan/bersenang-senang.

Ibadah tapa brata penyepian tersebut berlangsung selama 24 jam sejak Selasa (12/3) pukul 06.00 Wita hingga pukul 06.00 kembali keesokan harinya, diharapkan dapat dilaksanakan dengan kesadaran yang tinggi, termasuk tidak menghidupkan televisi, mendengarkan radio, tidak berkomunikasi menggunakan telepon seluler maupun internet.

Bagi umat lintas agama juga telah diwanti-wanti lewat majelis agamanya masing-masing agar menghormati pelaksanaan ibadah Catur Brata Penyepian.

Dalam seruan bersama majelis-majelis agama dan keagamaan di Provinsi Bali, umat Hindu diharapkan mampu melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan baik. Sementara non Hindu dalam melaksanakan peribadatan menyesuaikan dengan suasana Nyepi.

Kesepakatan lintas umat beragama di Pulau Dewata itu akan mampu memelihara dan memantapkan kerukunan hidup antarumat beragama yang selama ini harmonis hidup berdampingan satu sama lainnya, tutur Jro Ketut Sumadi.

Meski sepi dan sunyi, di daerah pedesaan Banjar Ole, Desa Marga, 21 km barat laut Denpasar itu suara kotek dan kokokan ayam saling bersautan terdengar jelas menjelang pagi hari, seirama embusan angin basah serta gesekan daun dan ranting pepohonan di daerah yang masih menghijau dan lestari di daerah gudang beras Kabupaten Tabanan.

Perayaan Hari Suci Nyepi yang demikian itu menurut Dr Jero Ketut Sumadi dirayakan sejak zaman Raja Kaniska I dari Dinasti Kusana di Asia Selatan yang naik tahta tahun 78 masehi, pada abad I atau sejak 21 abad yang lampau.

Fenomena masa kini Raja bijaksana itu, mendorong adanya "Mahasabha" yakni Pesamuan Agung bagi umat Hindu dalam memelihara kerukunan dan toleransi hidup beragama di negara tersebut.

Jero Ketut Sumadi yang juga pengamat seni budaya, adat dan agama itu menjelaskan, Kaniska I dalam mengendalikan kerajaan berhasil mewujudkan stabilitas keamanan nasional yang mantap serta toleransi dan kerukunan hidup antarumat beragama yang kokoh.

Prestasi itu mengantarkan Dinasti Kusana ke masa kejayaan yang gemilang, terbukti adanya hubungan diplomatik yang sangat baik dengan negara-negara luar seperti Yunani dan China.

Upaya ini membuka jalan bagi perkembangan kebudayaan dan agama, serta menjadikan India sebagai salah satu pusat agama dan peradaban manusia di dunia.

Raja Kaniska I berhasil membuka pintu India selebar-lebarnya bagi negara di Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia untuk perkembangan peradaban, kebudayaan dan agama.

Sejak ditetapkannya tahun saka oleh Raja Kaniska I, sistem penanggalan itu dipakai pula di seluruh India dan di Indonesia, khususnya Bali hingga sekarang.

Pada saat itu pula terjadi pembauran perhitungan tahun antara tahun Saka (yang memakai perhitungan surya atau matahari) dengan tahun yang memakai perhitungan candra atau bulan yang lazim disebut "Iunisalor system".

Di Indonesia, khususnya Bali, tahun baru Saka dirayakan setiap tanggal 1 Waisaka dengan "mati ageni" yang didahului dengan upacara bhuta yadnya (Tawur Agung Kesanga) yang jatuh setiap "Tilem Chaitra", sehari sebelum Hari Suci Nyepi.

"Tapi bagaimana perayaan tahun baru Saka (Nyepi pada zaman Raja Kaniska I), belum dapat diungkapkan secara rinci," ujarnya.

Ayah dari dua putra kelahiran Gianyar itu menjelaskan, hari suci Nyepi oleh umat Hindu di India hingga sekarang masih tetap dirayakan, namun tidak sekhidmat yang dilakukan di Pulau Dewata.

Ritual dan kasih sayang

Raja Kaniska I dikenal kokoh pada pendiriannya, bahwa perang tidak akan menyelesaikan masalah, justru menimbulkan kemelaratan dan kesangsaraan bagi masyarakat dan umat manusia.

Permasalahan yang muncul hanya dapat diselesaikan lewat kegiatan ritual, aktivitas seni budaya serta rasa kasih sayang dan kerukunan antarumat yang baik.

Pendirian yang kokoh dari Raja Kaniska I pada abad pertama itu hingga sekarang masih tetap lestari dan diwarisi umat Hindu di Bali secara turun-temurun.

Lewat ibadah tapa brata penyepian selama sehari penuh, Menurut alumnus S-3 Kajian Budaya Universitas Udayana itu, umat manusia seolah-olah mengalami kelahiran baru dan kembali menjalani kehidupan dari nol.

Jika kehidupan yang hening, sunyi senyap itu dapat diterapkan umat manusia di berbagai negara di belahan dunia akan dapat mengistirahatkan alam dari segala aktivitas sejenak, termasuk tidak mencemarinya dengan aneka polusi.

Nyepi (hening) tanpa aktivitas apapun selama 24 jam memiliki makna penting bagi keseimbangan alam semesta, baik dunia rohani maupun jasmani (Panca Mahabutha), sekaligus memberikan kesempatan kepada alam untuk mampu menjadi paru-paru dunia.

Seperti diketahui, di sejumlah negara termasuk Indonesia yang berhutan tropis merupakan andalan dunia sebagai kawasan yang mampu memberikan "nafas" bagi semua unsur kehidupan.

Konsep Nyepi menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Dr I Gusti Ngurah Sudiana, sesungguhnya merupakan kedamaian (santhi) yang perlu dijaga dengan baik, tatkala unsur itu dicemari polusi, emisi gas dan bahan berbahaya lainnya bagi kehidupan.

Untuk itu perlu mengendalian diri umat manusia yang dalam ajaran Hindu disebut Catur Brata Penyepian, yakni empat pantangan yang wajib ditaati saat Hari Raya Nyepi yang jatuh setiap 420 hari sekali.

Melalui ibadah tapa brata itu sekaligus mampu membersihkan awan gelap yang selama ini menyelimuti pikiran dan menutup mata bathin. Oleh sebab itu umat manusia dapat berpikir cerdas, melalui pengendalian diri dan pengamalan ajaran agama masing-masing, dengan tetap menghormati tatanan nilai sosial budaya masyarakat setempat.

Nilai spiritual yang terkandung dalam tapa brata penyepian bersifat universal, sangat mulia, jika mampu dilaksanakan oleh umat manusia di muka bumi, sekaligus mampu mewujudkan ketenteraman, kedamaian dan keharmonisan, ujar Ngurah Sudiana. (*/ADT/T007)



Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026