Umat Kristiani pada Selasa 25 Desember 2012 di seluruh dunia merayakan Natal yang merupakan upacara peringatan lahirnya Yesus Kristus.
Begitu juga di Pulau Dewata yang mayoritas penduduknya memeluk Agama Hindu, namum perayaan Natal di gereja-gereja di Bali cukup meriah dan menunjukkan betapa indahnya kedamaian antarumat beragama yang saling menghormati perbedaan kepercayaan tersebut dalam nuansa hening.
Tampak sejumlah gereja di Bali sejak dahulu mampu menunjukkan adaptasi dan akulturasi budaya Bali, seperti menggunakan arsitektur dan ornamen Bali di gereja, namun tetap pada tatanan sebagai hiasan.
Begitu juga pada perayaan Natal umat Kristiani Di Desa Tuka, Kabupaten Badung dan Di Desa Palasari, Kabupaten Jembrana sangat kental dengan nuansa Bali, seperti menghiasai gereja dan di depan rumah warga menggunakan "pepenjoran" yakni hiasan janur pada sebatang bambu.
Tetapi hiasan "penjor" yang dibuat tidak sama dengan adat-istiadat yang selama ini digunakan dalam ritual Agama Hindu.
"Itu merupakan tradisi kami sebagai orang Bali yang tidak boleh melupakan tradisi leluhur," kata Ketua Dewan Pastoral Paroki III Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, Nyoman Robi Dewantara, di Desa Dalung, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, Selasa.
Sebagian besar umat Kristiani menggunakan pakaian adat Bali, dengan mengenakan kain sarung dan "udeng" atau kain ikat kepala untuk pria dan kain sarung dan kebaya bagi wanita, menjadikan pemandangan unik dan khas Pulau Dewata.
Satu persatu umat Kristiani mendatangi gereja Tuka yang memiliki bentuk ornamen ukiran khas Pulau Dewata.
Kebaktian Natal di gereja yang didirikan pada 14 Februari 1937 itu dimulai pukul 08.00 Wita, diawali dengan perarakan dengan membawa salib dan lilin memasuki ruang gereja.
Ibadah kemudian dilanjutkan dengan lagu pujian, liturgi sabda, dan doa-doa yang dipimpin Romo Martinus Fatin SVD.
Selain menggunakan tradisi dengan mengenakan pakaian adat Bali, hiasan penjor yang ada di sekitar gereja juga menambah unik perayaan Natal di salah satu gereja tertua di Pulau Dewata itu.
Salah satu tokoh gereja, Nyoman Aloysius mengatakan bahwa, bambu yang dihias dengan janur itu disebut "pepenjoran" karena meski mirip dengan penjor khas dalam ritual adat di Bali, namun "pepenjoran" sebagian tidak mengadopsi tradisi Bali yakni tidak adanya sesajen dan buah-buah yang biasa menghiasi penjor.
Dia mengatakan bahwa "pepenjoran" merupakan bentuk inkulturisasi kehadiran gereja yang diangkat dalam budaya lokal.
Dewan Keuangan Paroki itu menyatakan bahwa gereja yang memiliki umat di lingkungan Paroki Tuka sekitar 500 kepala keluarga itu tidak mengambil nilai lokal setempat, melainkan unsur lokal kemudian diangkat dan disucikan.
"Gereja masuk lalu menghadirkan diri dalam budaya lokal. Gereja Kaltolik hadir sesuai dengan budaya lokal di Bali. Bukan mengambil budaya tetapi melebur dengan unsur budaya lokal," ujar Aloysius.
Tak hanya di lingkungan gereja, "pepenjoran" juga dipasang di depan rumah umat Kristiani di Banjar Tuka.
Selain itu ada tradisi unik yang juga dilaksanakan umat Katolik di Banjar Tuka yakni dengan melakukan tradisi "penampahan" atau kegiatan penyembelihan hewan yang biasanya dilakukan sehari atau dua hari menjelang Natal, dengan urunan masing-masing umat.
"Penampahan" merupakan tradisi yang dilakukan umat Hindu sehari menjelang Hari Raya Galungan.
"Itu merupakan simbol bagi kami sebagai orang Bali dan kami ungkapkan iman kami dalam wajah Bali," ujar Alysius.
Refleksi bangsa
Uskup Denpasar Silvester San menyampaikan pesan agar perayaan Natal adalah sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus tetapi juga kebangkitan bangsa Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan dalam kotbah malam perayaan Natal di Gereja Roh Kudus Katedral, Kota Denpasar.
Perayaan misa tersebut yang dihadiri ribuan umat Katolik tersebut, ia mengatakan Natal sebagai perayaan kelahiran Isa Almasih, hendaknya tidak menjadi rutinitas umat Katolik Keuskupan Denpasar.
"Sebagaimana Yesus Kristus lahir ke dunia membawa secercah cahaya bagi seluruh umat manusia. Ia dilahirkan agar kasih karunia Allah, dan membawa terang bagi dunia dan seisinya," katanya.
Menurut Uskup Silvester San, saat ini bangsa Indonesia dan juga umat Katolik menghadapi berbagai persoalan bangsa.
Di tengah kondisi bangsa seperti ini, umat Katolik harus mampu menjadi terang bagi sesamanya dengan caranya masing-masing.
Ia mengungkapkan sekecil apa pun terang tersebut tetapi bila ditempatkan dalam tempat yang gelap maka akan sangat bermanfaat bagi dunia dan sekitarnya.
"Mari tebarkan cinta kasih kepada semua umat manusia, jangan nodai perbuatan-perbuatan di dunia ini dengan kebencian. Karena dihadapan Tuhan kita sebagai manusia adalah sama," ucapnya.
Keterliban keamanan "pecalang" atau keamanan tradisional Bali di Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa di Komplek Peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua sebagai bentuk tolerasi antarumat beragama di Pulau Dewata.
Sekretaris Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Alex Sani Kelen mengapresiasi keterlibatan "pecalang" yang biasanya berjaga di barisan depan.
Menurut dia, hal itu merupakan bentuk toleransi antarumat beragama yang sudah terjalin baik sejak lama.
Biasanya dua orang keamanan desa dari Desa Adat Bualu dikerahkan untuk ikut bertugas menjaga arus lalu lintas di sekitar kompleks tempat ibadah lima agama tersebut.
Selain "pecalang", bentuk kerukunan umat lain juga ditunjukkan di kompleks Puja Mandala, yakni umat Nasrani diizinkan untuk memarkirkan kendaraannya di halaman parkir Masjid Agung Ibnu Batutah, dan Pura Jagatnata yang terletak dalam satu kompleks.
"Mereka bantu menyediakan parkir untuk umat yang akan melaksanakan ibadah," katanya.
Ia mengatakan bahwa selain "pecalang", Puja Mandala juga dijaga aparat kepolisian dari Polsek Kuta Selatan yang berjumlah lebih dari enam orang dan aparat TNI AD yang berjumlah empat orang.
Mengenai pengamanan, lanjut Alex masih sesuai dengan standar pengamanan seperti tahun-tahun sebelumnya yang digelar di gereja dengan total umat terdaftar sebanyak 2.700 orang.
"Seperti tahun-tahun sebelumnya masih ketat juga. Sejak H-5 aparat sudah menyisir gereja sampai ke belakang," ujar Alex.
Pengamanan selain dilakukan oleh aparat, pihak gereja juga telah mengerahkan pengamanan petugas internal dengan dibantu dua alat genggam pendeteksi logam. (LHS/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.