"Aksi tersebut sebagai salah satu bentuk solidaritas terhadap karya jurnalistrik," kata Margiono ketika tampil sebagai pembicara utama pada sarasehan "Mengenang Prabangsa: Perspektif Pers di masa depan" di Denpasar Sabtu.
Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa (43) adalah wartawan Radar Bali (Jawa Pos Group) yang tewas dibunuh karena pemberitaan kasus korupsi 11 Pebruari 2009 dan mayatnya ditemukan terapung di Selat Lombok, 16 Pebruari 2009.
Margiono menambahkan, pihaknya segera akan meneliti dan mengkaji karya-karya almarhum yang hingga menyebabkan dirinya tewas terbunuh.
"Mudah-mudahan karya almarhum memenuhi syarat jurnalistik," tutur Margiono seusai melantik kepengurusan PWI Bali periode 2009-2014 yang diketuai Bagus Ngurah Rai.
Sebelumnya Ketua PWI Bali telah memberikan penghargaan berupa santunan yang diterima ahli waris istri almarhum Sagung Putu Mas Prihantini, SS.
Selain itu PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) Cabang Bali pada bulan Juni lalu telah menyerahkan santunan sebesar Rp123,7 juta kepada ahli waris.
Sementara I Putu Suyatra, Redaktur Pelaksana Radar Bali mengatakan, pihak perusahaan tempat almarhum bekerja juga memberikan santunan serta bea siswa kepada kedua putra almarhum hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Kedua putra almarhum kini duduk di kelas satu dan kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP).
Almarhum Prabangsa dibunuh sekelompok orang yang mayatnya dibuang di perairan Padangbai, Bali timur, namun ditemukan terapung di Selat Lombok.
Susrama, anggota DPRD Bangli terpilih hasil Pemilu 2009 menjadi terdakwa sebagai aktor intelektual sekaligus pelaksana dalam kasus tewasnya Prabangsa.
Sementara delapan tersangka yang lain, adalah anak buah Susrama baik di perusahaan maupun di proyek yang dia pimpin, ikut terlibat dalam kasus pembunuhan setelah mendapat perintah dari Susrama.
Kesembilan pelaku pembunuhan tersebut kini masih dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Denpasar. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.