"Hal itu terlihat dari beberapa mahasiswa asing sudah mendaftarkan diri pada program S-2 bidang studi penciptaan dan pengkajian seni," kata Rektor ISI Prof Rai Prof Wayan Rai di Denpasar, Bali, Senin.
Ketika membuka seminar bertajuk "Proses kreativitas dalam membangun karakter bangsa" dalam menyambut Dies Natalis VIII dan wisuda sarjana seni IX ISI Denpasar, ia mengatakan, pendaftaran mahasiswa baru S-2 tersebut berlangsung mulai 25 Juli 2011.
ISI Denpasar selama ini mendidik sebanyak 496 mahasiswa mancanegara untuk progran nongelar, guna mempelajari serta mendalami tabuh dan tari Bali selama 13 tahun kurun waktu 1998-2011.
Mereka berasal dari berbagai negara di belahan dunia yang mendapat kemudahan dari program Dharmasiswa pemerintah Indonesia maupun atas biaya sendiri.
Mahasiswa asing itu mengikuti proses belajar mengajar di fakultas di lingkungan lembaga pendidikan tinggi seni di Pulau Dewata, namun yang paling banyak memilih Fakultas Seni Pertunjukan, baik tabuh maupun tari Bali.
Mereka antara lain berasal Jepang, Cekoslovakia, Filipina, Rusia, Meksiko, Swedia, dan Australia.
Setiap tahun penerimaan mahasiswa baru ada saja warga negara asing yang melanjutkan pendidikan untuk mendalami seni budaya Bali.
Mahasiswa mancanegara itu belajar selama tiga hingga empat semester, umumnya hal itu secara berkesinambungan, karena ada yang tamat dan adapula yang baru memulai kuliah.
Mereka mengambil program jangka pendek guna mempelajari seni tari dan instrumen gamelan Bali maupun musik nusantara.
Satu-satunya lembaga perguruan tinggi seni di Bali yang mencetak lulusan untuk memiliki keterampilan bidang gamelan, pedalangan, seni di atas kanvas dan tari Bali sudah meluluskan ratusan mahasiswa asing dengan status nonsarjana.
Mereka sudah mampu menguasai berbagai jenis tari maupun memainkan instrumen gamelan Bali. Dengan bekal keahlian dan kemampuan tari Bali itu mereka kembali ke negaranya.
Prof Rai, alumnus Universitas California di Los Angeles itu menambahkan, tamatan ISI Denpasar asal luar negeri setelah kembali ke negaranya, mengembangkan kreativitas dalam bidang seni yakni kolaborasi tari dan gamelan Bali dengan kesenian atau musik yang berhaluan barat.
Sebagian alumnus ISI warga negara asing lainnya, ada pula membuka kursus dan mengajarkan tari Bali kepada masyarakat di negara asalnya.
Kondisi demikian berdampak positif terhadap pelestarian dan pengembangan tari, gamelan dan seni budaya Bali di mancanegara, katanya.
Prof Rai mengingatkan, kemampuan orang asing dalam mempelajari seni budaya Bali jangan dijadikan ancaman oleh orang Bali, karena akan bisa saling berbagi ilmu dan saling mengisi dalam bidang seni dan kebudayaan.
Hal itu sangat penting dalam memasuki persaingan dunia yang semakin ketat, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan tidak lengah. Semakin banyak orang asing mempelajari seni budaya Bali harus dapat dijadikan motivasi dan tantangan untuk melestarikan seni Bali.
Selain itu sangat berpeluang mengembangkan produk industri ekonomi kreatif berbasis seni budaya lokal. Peluang yang bisa dikembangkan antara lain menjual produk gamelan Bali serta kostum tari ke luar negeri, tutur Prof Rai.
Ia mengatakan, selain bidang studi penciptaan dan pengkajian seni, itu ISI masih akan menambah dua program bidang studi, yang kini masih dalam proses untuk mendapatkan izin di Kementerian Pendidikan Nasional.
"Mudahan-mudahan penambahan kedua bidang program studi baru itu cepat mendapat persetujuan dari Kemendiknas," ujar Prof Rai.
Penambahan program studi baru itu menekankan pada penjaminan kualitas yang baik, sesuai harapan masyarakat dan tekad ISI Denpasar.
Demikian pula ADM dan sarana pendukungnya dinilai sudah memadai dalam melaksanakan program magister seni, ujar Prof Rai seraya menjelaskan, pihaknya sejak 2004 menerapkan strategi peningkatan kualitas dosen secara berkelanjutan dalam mengantisipasi meningkatkan mutu pendidikan tinggi seni.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.