"Saya sebagai wakil pemerintah sudah memberikan harapan apa yang akan dihadapi, apa yang dibutuhkan. Pemerintah sangat membutuhkan peran dari para pelaku usaha karena merekalah yg sebenarnya jadi harapan penggerak utama," ujar Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi seusai konferensi pers "The 5th Indonesian International Cocoa" di Nusa Dua, Kamis.
Menurut dia, pemerintah juga sudah menggerakkan program kakao yang bugetnya antara satu sampai Rp1,5 triliun per tahun selama tiga tahun berturut-turut.
Bayu menerangkan, sejauh ini di Indonesia produksi coklat atau kakao sudah meningkat, baik kualitas maupun potensinya, sebab sudah ada cara untuk penanganan penyakit serta perbaikan varietas kakao.
"Jadi saya pikir kita punya potensi kalau sekarang kita memikirkan sekitar 700 ribu ton per tahun. Mudah-mudahan dalam empat sampai lima tahun ke depan kita bisa menghasilkan satu hingga dua juta ton per tahun," harapnya.
Dengan nilai satu hingga dua juta ton per tahun tersebut, pemerintah berharap perkebunan maupun industri coklat dapat menciptakan lapangan kerja baru.
"Tapi yang bisa dibuat oleh pemerintah adalah koridor semacam itu, yang lain itu harus datang dari pelaku. Untuk itu kami sengaja menghajak mereka untuk bisa bekerja sama seperti tema konferensi saat ini," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang memaparkan, tahun ini di Indonesia produksi kakao kemungkinan hanya mencapai 500 ribo ton, namun berharap tahun 2012 dapat mencapai produksi kokoa hingga 700 ribu ton.
"Tahun depan kalau iklim bagus produksi bisa mencapai 700 ribu ton, tapi tahun ini mungkin 500 ribu ton saja, karena panen pertama sepertinya tidak tercapai. Yang seharusnya panen coklat bisa dua kali dalam setahun, tapi kali ini kemungkinan panen raya cuma satu kali, yakni bulan Oktober," paparnya.
Hambatan panen coklat tersebut dijelaskannya, karena pengaruh cuaca seperti hujan yang terus menerus sejak dua tahun lalu.
"Kakao perlu matahari untuk tumbuh dan supaya jamur di buahnya bisa hilang. Kalau musim hujan, buahnya banyak jamurnya, dan akan rusak. Kami harap tahun depan produksi akan tercapai," katanya.
Terkait ekspor kakao, Zulhefi menjelaskan tahun ini nilai ekspor biji kakao akan turun, namun kapasitas penggilingan biji kakao dalam negeri akan naik sekitar 20 persen.
Menurut dia, kemungkinan ekspor kakao turun 40 persen. Ekspor tahun lalu 350 ribu ton, sementara tahun ini kemungkinan cuma 150 ribu ton. Untuk nilai ekspor total biji kakao dan produk olahan meningkat terus mencapai Rp 17 triliun.
Peningkatan produk olahan tersebut cukup jauh dibandingkan lima tahun lalu karena harga kakao juga naik hampir dua kali lipat. Namun dari segi jumlah produksinya hampir sama, bahkan ada pergeseran pasar ekspor, yakni dari Amerika ke Malaysia.
"Kita ini merupakan produsen nomor tiga setelah pantai Gading dan Ghana," imbuhnya.
Untuk menyiasati hambatan iklim tersebut, Zulhefi menjelaskan bahwa perlu adanya pelatihan bagi para petani coklat seperti tata cara pemangkasan coklat agar tidak gagal panen.
"Kita harus perbanyak pelatihan bagaimana cara pemangkasan kakao harus kita intensifkan. Pemangkasan ini seperti mengurangi daun, sehingga proses pembuahan bisa lebih banyak serta siasat-siasat secara teknologi. Untuk itu lewat pertemuan ini semua pihak akan membangun kakao secara berkelanjutan," rincinya.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026