PHDI: Pengungsi Bisa Merayakan Galungan Dari Pengungsian

PHDI: Pengungsi Bisa Merayakan Galungan Dari Pengungsian

Ketua PHDI Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana, di Denpasar. (Antara Bali/Ni Luh Rhisma/wdy/2017)

Denpasar (Antara Bali) - Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan pengungsi siaga darurat Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, dapat merayakan Galungan dari tempat pengungsian maupun sejumlah pura terdekat.

"Dari pengungsian, para pengungsi bisa `nyawang atau ngacep` (memanjatkan doa) untuk Ida Bhatara yang ada di rumah atau pura masing-masing, dengan mendirikan `sanggar surya` pada tempat yang telah disterilkan untuk tempat persembahyangan," kata Sudiana, di Denpasar, Selasa.

Pihaknya mengimbau para pengungsi agar mematuhi imbauan dari pemerintah untuk tetap tinggal di pengungsian meskipun pada 1 November mendatang merupakan Hari Suci Galungan, karena para pengungsi memang berasal dari kawasan rawan bencana dan masih banyak cara melakukan persembahyangan yang dibenarkan sesuai dengan agama dalam kondisi darurat.

Dia mengemukakan, untuk bersembahyang Galungan, para pengungsi dapat memilih sejumlah alternatif persembahyangan seperti dengan bersembahyang dan maturan (menyampaikan persembahan) di Pura Kahyangan Tiga yang berada dekat dengan lokasi pengungsian.

Selain di Pura Kahyangan Tiga, pengungsi juga dapat bersembahyangan di sejumlah Pura Kahyangan Desa setempat. "Tentu saja sebelumnya harus berkoordinasi dengan Bendesa Desa Pakraman (pimpinan desa adat) dan pangemong (penanggung jawab) di pura tersebut," ucapnya.

Selain itu, pengungsi juga dapat bersembahyang pada merajan (tempat suci lingkungan keluarga) pada warga sekitar yang klannya sama.

"Kalau di sekitarnya tidak ada pura maupun merajan yang klannya sama, cukup dari tempat pengungsian yang telah disterilkan untuk persembahyangan," ujarnya yang juga Rektor IHDN Denpasar itu.

Menurut dia, cara-cara persembahyangan seperti itu, sebelumnya juga pernah dilaksanakan para pengungsi Gunung Agung ketika terjadi erupsi pada 1963.

"Kalau untuk ngelawar (membuat olahan daging babi serangkaian Galungan) tentu akan lebih bermakna rasanya jika dilakukan di pengungsian karena bisa saling berbagi," ucap Sudiana. (WDY)