Senin, 23 Oktober 2017

Solfatara di Tengah Keretakan Kawah Gunung Agung

| 898 Views
id kawah gunung agung, retakan kawah, erupsi gunung agung, bnpb
Solfatara di Tengah Keretakan Kawah Gunung Agung
Pemuka Agama Hindu berjalan di Pura Lempuyang dengan latar Gunung Agung di Karangasem, Bali, Rabu (27/9). ANTARA FOTO/Wira Suryantala/wdy/2017. (edm)
Solfatara, sumber gas belerang (yang setelah membeku menjadi belerang padat), bisa dilihat dari Pos Pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang, Karangasem, Bali, setelah permukaan kawah gunung api itu alami keretakan.

Keretakan itu diketahui ketika pemantauan udara oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama Badan Nasionan Penanggulangan Bencana (BNPB), Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri, dan Dandim 1623 Karangasem Letkol Inf. Fierman Sjafrial Agustus.

Dengan munculnya solfatara itu, ada perubahan di kawah Gunung Agung yang sudah disterilkan dalam radius 12 km.

Sebelumnya, gunung api yang memiliki ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut itu setiap tahun menjadi tempat pelaksanaan ritual "Pekelem" rangkaian upacara besar di Pura Besakih.

Gunung yang berstatus Awas (Level IV) sejak 22 September lalu, kini tingkat kegempaannya makin tinggi dalam seminggu terakhir. Kegempaan untuk vulkanik dalam mencapai 500 kali, vulkanik dangkal lebih dari 300 lebih, tektonik lokal 70 kali. Bahkan, pada hari Sabtu (30/9) pukul 06.00 s.d. 12.00 Wita, kegempaan mencapai vulkanik dalam mencapai 166 kali, vulkanik dangkal 50, dan tektonik empat kali.

Kondisi permukaan kawah Gunung Agung kini retak yang diperkirakan sepanjang 100 meter, kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gede Suantika.

PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral kemudian meningkatkan status Gunung Agung menjadi Awas. Wilayah steril yang semula radius 6 kilometer dari puncak gunung itu, diperluas jadi 9 km.

Selain itu, ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan-barat daya sehingga kawasan yang berbahaya dalam radius 12 km dari gunung itu harus dikosongkan.

Dari pengamatan visual PVMBG, menurut Gede Suantika, ketinggian solfatara itu mencapai sekitar 50 meter. Munculnya solfatara akibat kawah yang retak disebabkan karena dorongan panas dari magma gunung yang selama ini keberadaannya disucikan umat Hindu Pulau Dewata.

Kondisi yang makin mengkhawatirkan itu menyebabkan masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Agung makin menjauh. Jumlah pengungsi mencapai 143.840 orang yang tersebar di 471 titik di seluruh Bali hingga Sabtu (30/9) malam.

Padahal, Gubernur Bali Made Mangku Pastika berulang kali telah menyatakan bahwa 50 di antara 78 desa di Kabupaten Karangasem dalam kondisi aman, atau masyarakat di 28 desa yang perlu mengungsi.

Masyarakat di 50 desa tidak perlu mengungsi. Mereka diharapkan secepatnya pulang kembali ke rumah masing-masing. Dalam hal ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) siap mengevakuasinya.

Ke-28 desa yang masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung yang diwajibkan mengungsi terdiri atas tujuh desa di Kecamatan Kubu meliputi Desa Tulamben, Kubu, Dukuh, Baturinggit, Sukadana, dan Tianyar (Tianyar Tengah dan Barat aman).

Lima desa di Kecamatan Abang terdiri atas Desa Pidpid (bagian atas), Nawekerti, Kesimpar, Datah (bagian atas), dan Ababi (atas dan barat). Di Kecamatan Karangasem tiga desa meliputi Padangkerta, Subagan dan Kelurahan Karangasem (dekat Tukad Janga).

Di Kecamatan Bebandem terdapat empat desa yang warganya harus mengungsi meliputi Buwana Giri (bagian atas), Budekeling (dekat Sungai Embah Api), Bebandem (bagian atas), dan Jungutan.

Warga dari desa-desa di Kecamatan Selat dan Rendang juga wajib mengungsi, yakni Duda Utara, Amerta Buwana, Sebudi, Peringsari, Muncan, Besakih, Menanga, dan Pembatan.

Peringatan Bahaya

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan bahwa pihaknya telah memasang 54 rambu peringatan bahaya di Gunung Agung setelah memasang sirene di enam titik, sekeliling kawasan rawan bencana.

Puluhan rambu tersebut sebagai pemberitahuan kepada masyarakat. Pada rambu peringatan tersebut tertulis "Saat ini Anda berada di radius 9 kilometer dari puncak Gunung Agung" atau tulisan lainnya yang bertujuan memberikan peringatan dan imbauan kepada masyarakat.

Enam sirene yang dikenal dengan nama "iRaditif" atau "iCast Rapid Deployment Notification System" merupakan sirene bergerak yang dapat dipindahkan dengan kendaraan.

BNPB mendatangkan secara khusus alat canggih tersebut dari gudang peralatan BNPB di Sentul Bogor ke Karangasem setelah status Gunung Agung naik menjadi Awas.

Bunyi sirene tersebut mampu menjangkau radius 2 km, bahkan dapat lebih jauh jika suara terbawa angin. Pemasangan sirene itu bertujuan memberikan peringatan tanda bahaya kepada masyarakat jika Gunung Agung itu meletus.

Dengan demikian, bunyi sirene untuk mengabarkan sebagai tanda bahaya dan masyarakat dapat melakukan upaya penyelamatan diri dan tindakan kegawatdaruratan.

Enam lokasi sirene terdapat di Polsek Selat, Polsek Rendang, Pos Polisi Tianyar, Polsek Kubu, Koramil Kota Karangasem, dan Koramil Abang. Mekanisme kerjanya manual yang dibunyikan oleh petugas atau operator sirene setelah mendapat perintah dari petugas di Posko Utama Tanah Ampo Karangasem.

Posko terhubung dengan Pos Pengamatan Gunung Agung yang memberikan informasi tentang bahaya letusan. Petugas posko didukung analisis data lainnya memberikan perintah kepada operator untuk membunyikan sirene melalui komunikasi dengan radio komunikasi dan telepon seluler.

Untuk itu, BNPB telah memasang beberapa "repeater" dan rig untuk radio komunikasi agar terkoneksi semua jaringan komunikasi antara operator sirene, posko, dan pos pengamatan Gunung Agung.

Demikian pula, menyiapkan sistem pengendali otomatis untuk membunyikan sirene yang sudah banyak dipasang pada sirene peringatan dini tsunami.(WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga