Kamis, 19 Oktober 2017

Hutan Keramat Itu Jadi Kebun Raya Gianyar

| 424 Views
id Kebun Raya Gianyar, pemkab gianyar, bali visit
Hutan Keramat Itu Jadi Kebun Raya Gianyar
Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata, (28/3), bersama kepala kebun raya Bogor, Didik Widyatmoko, melakukan peninjauan ke hutan adat Pilan (28/3/16). (Antara Bali Via Humas Pemkab Gianyar/2017) (edm)
Kebun Raya Gianyar dalam pengembangan ke depan menerapkan konsep tematik dengan pemandangan alam, keberadaan satwa kijang yang populasinya cukup banyak
Lahan seluas sepuluh hektare itu merupakan kawasan hutan rakyat yang dikeramatkan masyarakat Desa Pekraman Pilan di Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, sekitar 45 kilometer timur laut Kota Denpasar.

Tanah negara yang dikelola oleh masyarakat desa adat setempat secara turun temurun itu kondisinya rimbun dan lestari mengoleksi 41 jenis vegetasi asli terpelihara dengan baik.

Hutan yang dikeramatkan masyarakat setempat kini disulap menjadi Kebun Raya Gianyar (KRG) yang mampu memberikan banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat dan menambah objek wisata baru, tutur Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata.

KRG yang merupakan kebun raya ke-32 di Indonesia itu dibangun secara bertahap dengan dukungan dana APBD Pemkab Gianyar dan pemerintah pusat sebesar 16,9 miliar yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat setempat antara lain sebagai konservasi, pendidikan, penelitian, wisata, dan jasa lingkungan penghasil oksigen.

Sebanyak 41 jenis vegetasi asli yang menjadi koleksi awal KRG didominasi oleh pohon-pohon berukuran besar hingga berbagai jenis anggrek, dan 36 jenis binatang diantaranya burung dan keberadaan menjangan.

Koleksi itu diharapkan dapat ditingkatkan di masa-masa mendatang sehingga mampu sebagai penghasil oksigen, mengurangi laju degradasi keaneka ragam tumbuhan langka, sekaligus memanfaatkan potensi daerah secara maksimal dan berkelanjutan.

KRG yang berlokasi sekitar tujuh kilometer di sebelah utara Perkampungan Seniman Ubud itu juga diharapkan mampu mempertahankan iklim yang sejuk di tengah maraknya peralihan fungsi lahan sawah untuk kebutuhan pembangunan fisik.

Ketulusan masyarakat setempat menjaga kelestarian lingkungan, menghijaukan daerah itu dan setiap jengkal lahan itu tentu akan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat dengan berfungsinya daerah itu sebagai objek wisata baru.

Perkampungan seniman Ubud dan daerah seni Kabupaten Gianyar yang selama ini sudah dikenal wisatawan mancanegara, tentu tidak sulit untuk memperkenalkan Kebun Raya Gianyar bagi wisatawan dalam dan luar negeri.

Kelestarian dan panorama alam itu menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan mancanegara, disamping keunikan seni budaya Bali.

Oleh sebab itu hampir setiap saat puluhan wisatawan mancanegara berjalan kaki di tengah hamparan lahan sawah yang menghijau pada pagi hari itu di Subak Lottunduh, perkampungan seniman Ubud, yang tidak jauh dari Kebun Raya Gianyar yang baru diresmikan tersebut.

Mereka menikmati udara bersih dengan berjalan kaki melewati pematang sawah maupun pematang saluran irigasi dengan air yang mengalir jernih, dengan ratusan ikan air tawar yang menghuni saluran tersebut.

Dengan beroperasinya Kebun Raya Gianyar yang lokasinya tidak jauh dari perkampungan seniman Ubud itu tentu juga akan ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri, karena transportasinya sangat lancar.



Dukungan masyarakat

Pembangunan Kebun Raya Gianyar itu memerlukan proses yang sangat panjang serta dukungan masyarakat setempat untuk melakukan pelebaran jalan menuju lokasi tanpa ganti rugi.

Masyarakat secara iklas dan rela menyerahkan tanahnya untuk pelebaran dan pembukaan jalan baru, jika dinilai dengan uang mencapai belasan miliar rupiah.

"Kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada warga yang telah berkonstribusi merelakan tanahnya untuk jalan tanpa meminta ganti rugi," ujar Bupati Bupati Agung Bharata.

Hal itu berkat pendekatan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya arti sebuah pembangunan dengan harapan mampu mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan pendapatan asli daerah.

Hal itu telah sesuai dengan syarat minimal pembangunan kebun raya yang harus memiliki lahan berkekuatan hukum tetap, memiliki lembaga pengelola, infrastruktur yang memadai pada zona penerima, zona pengelola dan zona koleksi.

Hal itu sesuai fungsi yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 93/2011 tentang Kebun Raya. Untuk itu membangun kebun raya memerlukan proses panjang, yakni hingga tujuh tahun baru bisa berfungsi dan terbuka untuk umum.

Kebun Raya Gianyar dalam pengembangan ke depan menerapkan konsep tematik dengan pemandangan alam, keberadaan satwa kijang yang populasinya cukup banyak.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gianyar Wayan Kujus Pawitra memerlukan proses yang cukup panjang selama tiga tahun mulai 2016 yang diawali dengan mengalokasikan dana sebesar Rp150 juta untuk menyusun detail enginering design (DED).

Kemudian dilanjutkan 2017 dengan peningkatan jalan ke lokasi KRG sepanjang 4,314 kilometer lebar 5,5 meter dengan biaya Rp12,7 miliar yang bersumber dari APBD setempat.

Selain itu membangun pintu gerbang KRG dengan biaya Rp2,9 miiar, pembangunan jaringar air sebesar Rp686 juta dan bantuan hibah pembangunan Taman Tematik dari LIPI sebesar Rp500 juta lebih.

Untuk melanjutkan pembangunan dan melengkapi sarana dan prasarana pendukung, telah mengusulkan bantuan APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2018 sebesar Rp14 miliar.

Selain itu memprioritaskan mengembangkan dan mengidentifikasi tanaman tematik, yakni tanaman yang dapat memenuhi keperluan ritual (upakara) orang Bali dari mulai lahir hingga meninggal yang semuanya berkaitan dengan flora dan fauna yang kini kondisinya mulai langka di Bali.

Oleh sebab itu membangun taman tematik di kawasan Kebun Raya Gianyar juga menjadi prioritas yang diharapkan segera bisa terealisasi sesuai harapan Bupati Anak Agung Gde Bharata. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga