Denpasar (Antara Bali) - Tim relawan Hari Hening se-Dunia atau "World Silent Day"(WSD) berharap kejadian meledaknya embangkit listrik tenaga nuklir di Jepang seharusnya menjadi bahan kajian pemerintah Indonesia yang berencana membangun pembangkit serupa.
    
"Kasus di Jepang, pemerintah harus mengkaji kembali rencana pembangunan PLTN di negeri ini," kata Catur Yudha Haryani, salah sukarelawan di sela-sela peringatan WSD yang dilaksanakan di luar halaman kantor Gubernur Bali, Denpasar, Senin.
    
Menurut dia, pemerintah merencanakan akan membangun PLTN pada 2016, namun sejumlah ahli nuklir menyatakan hal itu tidak akan terealisasikan dengan mudah sebelum persyaratannya terpenuhi.
    
Pembangunan pembangkit listrik itu, direncanakan di sejumlah lokasi dan daerah yang mencuat saat ini untuk dijadikan lokasi PLTN adalah Bangka Belitung.
    
"Pemerintah harus bisa lebih berpikir panjang untuk memperhatikan
 dampak yang akan ditimbulkan, apabila PLTN jadi dibangun," ujarnya.
     
Menurut dia, jangan sampai rencana pembangunan pembangkit itu hanya memperhatikan satu aspek, melainkan harus secara menyeluruh, termasuk menganalisis dampak yang bisa ditimbulkan oleh keberadaan PLTN.
    
Pada kesempatan tersebut, relawan WSD menyampaikan keprihatinan atas bencana yang terjadi di Negeri Matahari itu yang diwujudkan dengan membuat origami atau keterampilan membuat keterampilan berbentuk burung dari kertas daur ulang yang dalam tradisi Jepang digunakan untuk membangun harapan dan kedamaian.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026