Denpasar (Antara Bali) - Gagasan Hari Hening Se-Dunia atau "World Silent Day" (WSD) sampai saat ini belum direspons pemerintah Indonesia termasuk Pemprov Bali.

"Kami sudah bersurat kepada Pemrov Bali sejak sepekan yang lalu. Namun hingga Minggu (20/3), kami mendapatkan konfirmasi bahwa surat tersebut belum mendapatkan disposisi dari pejabat yang berwenang, yakni Gubernur Bali Made Mangku Pastika," kata Koordinator WSD, I Gusti Ayu Fransiska Kusuma Dewi di Denpasar, Senin.

Padahal, kata dia, WSD merupakan inspirasi dari kearifan lokal yang ada di Bali melalui Hari Raya Nyepi. Akibat belum mendapatkan izin resmi tersebut, puluhan aktivis lingkungan hidup Bali menggelar aksi merespon WSD di luar halaman kantor Gubernur Bali.

Menurut Fransiska, aksi WSD tersebut sebenarnya ingin digelar di halaman kantor Gubernur Bali untuk memberikan penyadaran atau peringatan kepada PNS di lingkungan Pemprov Bali agar ikut menyuarakan WSD ke dunia internasional.

Penggagas WSD Hira Jhamtani mengatakan, hingga saat ini sudah banyak negara yang ikut mendukung gagasan WSD tersebut.

"Sebenarnya kami menginginkan tiga negara di dunia yang mau mengusulkan WSD tersebut kepada badan di PBB agar WSD menjadi hari yang berlaku di seluruh dunia. Dan salah satu dari negara tersebut adalah Indonesia, namun hingga saat ini belum ada tanggapan dari Pemerintah Indonesia," ujarnya.

Bahkan, Indonesia sendiri menjadi pelopor dalam gerakan ini karena telah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen per tahun.

"Komitmen tersebut bila tidak didukung dengan aksi nyata, maka mustahil akan tercapai. Padahal dalam kampanye WSD, aktivis hanya membutuhkan empat jam dalam sehari setiap tahun pada setiap tanggal 21 Maret," kata Hira.

Ia berharap, seluruh aktivitas di bumi ini berhenti selama empat jam untuk memberikan kesempatan kepada bumi bernafas secara bersih.

Di Bali misalnya, hari raya Nyepi selama 24 jam mampu mengurangi produksi karbondioksida (CO2) minimal sebesar 20 ribu ton.

Bila seluruh dunia hening selama empat jam setiap 21 Mei setiap tahun, maka sudah miliaran CO2 yang terkurangi dan ini menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk menghambat laju perubahan iklim yang saat ini sedang melanda dunia dengan ancaman yang sangat serius.

"Dalam kampanye WSD tersebut kami ingin mengajak agar seluruh penduduk dunia hening selama empat jam, yaitu pukul 10.00 hingga pukul 14.00, dalam rangka mengurangi CO2," katanya.

Menurutnya, kurun waktu tersebut dipilih karena dianggap paling sibuk terutama daerah industri, seperti di Eropa dan Amerika.

Luh Putu Anggreni, seorang aktivis perempuan Bali mengatakan, gagasan WSD membutuhkan dukungan 10 juta tanda tangan untuk mendukung kampanye WSD agar bisa diajukan menjadi hari hening dunia.

"Sampai saat ini WSD baru bisa mengumpulkan 11 ribu tanda tangan dukungan. Untuk itu diharapkan semua pihak mendukung WSD dengan membubuhkan tandatangan agar bisa tercapai kuota tersebut," katanya.

Setelah itu, kata dia, dibutuhkan tiga negara yang sama-sama mengajukan ke badan lingkungan di PBB untuk merealisasikan hal tersebut.

"Dari 11 ribu tanda tangan tersebut, 70 persen ditandatangani oleh warga Bali. Sedangkan sisanya oleh masyarakat luar termasuk dari berbagai negara asing yang kebetulan datang ke Pulau Dewata.

Untuk dukungan tersebut, Pemerintah Kota Denpasar, BLH Provinsi Bali mengusulkan agar WSD dikampanyekan di hotel-hotel di Bali agar setiap tamu yang datang bisa membubuhkan tanda tangan untuk mendukung kampanye tersebut.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026