Denpasar (Antara Bali) - Seorang dosen STMIK Primakara Bali, I Putu Satwika M.Kom mengatakan tergerak dirinya ikut melestarikan Bahasa Bali melalui penelitian tahap pertama berjudul "Perancangan dan Uji Coba Stemming Bahasa Bali Menggunakan Pendekatan N-Gram Analisis".

"Penelitian ini bertujuan untuk membuat suatu algoritma stemming agar dapat memperoleh kata dasar dari suatu kata berimbuhan dalam Bahasa Bali," katanya di Denpasar, Kamis.

Satwika mengatakan pihaknya mendapatkan pendanaan dari Kementerian Ristek dan Dikti tahun 2015. Karena itu mulai sekarang melakukan kegiatan penelitian guna menghasilkan terbaik.

Berdasarkan data bahwa bahasa daerah merupakan salah satu warisan bangsa yang harus tetap dilestarikan. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Badan PBB Bidang Kebudayaan (Unesco), yang mana 11 persen bahasa ada di dunia terdapat di Indonesia.

Namun demikian, kata dia, kecenderungan masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing membuat keberadaan bahasa daerah menjadi sangat memprihatinkan.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa sembilan bahasa daerah di Papua telah punah dan terdapat lebih dari 50 bahasa daerah terancam punah. Bahasa Bali merupakan salah satu bahasa warisan kebudayaan Indonesia yang seharusnya dipertahankan keberadaannya.

Satwika lebih lanjut mengatakan dengan adanya penelitian bahasa daerah tersebut diharapkan dapat menjadi awal yang baik untuk dapat menerapkan metode-metode "text-mining dan information retrieval", sehingga Bahasa Bali dapat dipelajari kembali.

"Saya berharap bahasa daerah khususnya Bahasa Bali dapat dilestarikan," kata Satwika yang juga Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STMIK Primakara.

Satwika lebih lanjut menyampaikan bahwa hingga kini sebenarnya banyak sumber-sumber informasi, pengetahuan, cerita rakyat hingga ilmu-ilmu pengobatan yang berbahasa Bali dan tersebar dalam bentuk lontar, buku, blog atau website.

"Bagaimana kita bisa menemukan informasi-informasi berharga yang berbahasa Bali tersebut dengan cepat dan akurat? Untuk itulah perlu ada `search engine` atau mesin pencari untuk konten berbahasa Bali," ujar Satwika.

Menurut dia, pengolahan struktur kata atau kalimat dalam Bahasa Bali untuk menemukan suatu informasi saling berkaitan belum ada yang meneliti khusus, dari sisi "information retrieval".

Dikatakan tahapan untuk mewujudkan itu dimulai dengan penelitian pertama berupa pembuatan stemming. Stemming adalah suatu algoritma untuk merubah kata imbuhan menjadi kata dasarnya sehingga mempermudah dan mempercepat pencarian informasi.

"Dalam penelitian ini kami sudah menganalisis 1.500 kata dalam Bahasa Bali yang berimbuhan maupun kata dasar, selanjutnya data ini digunakan untuk implementasi search engine," kata Satwika yang juga alumnus Universitas Indonesia itu. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Komang Suparta

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015