Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menyampaikan berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) September 2025, tingkat kemiskinan Bali turun sejalan dengan penurunan ketimpangan penduduk.

“Biasanya tidak semuanya sejalan tapi ini kebetulan semuanya sejalan, ekonominya tumbuh bagus, ketimpangan makin rendah diikuti juga oleh pengurangan kemiskinan,” kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan.

Agus Gede di Denpasar, Kamis, menyebut hasil Susenas September 2025 mencatat angka kemiskinan Bali turun 0,30 persen poin atau tersisa 3,42 persen dari Maret 2025 yang saat itu 3,72 persen.

Jika dihitung berdasarkan jumlahnya, penduduk miskin di Bali kini tersisa 160,09 ribu orang dari kondisi Maret 173,24 ribu orang atau turun 13,15 ribu orang dalam 6 bulan.

Tingkat kemiskinan 3,42 persen ini mengantarkan  Bali kembali menjadi provinsi dengan kemiskinan terendah di Indonesia, persentasenya juga jauh lebih rendah dari rata-rata kemiskinan nasional yang sebesar 8,25 persen.

Lebih dalam, BPS Bali membagi tingkat kemiskinan berdasarkan perkotaan dan pedesaan, namun ternyata ketika dibagi kedua wilayah juga mengalami penurunan kemiskinan yaitu di perkotaan turun 0,21 persen poin dan di pedesaan 0,53 persen poin.

Dalam pengamatannya, BPS Bali menggunakan garis kemiskinan sebagai indikator untuk menentukan seseorang termasuk kategori penduduk miskin atau tidak.

Melihat peningkatan harga atau inflasi di September 2025 yang cenderung naik, ditemukan bahwa batas garis kemiskinan per orang per kapita Rp642.986.

“Itu merupakan angka per kapita per bulan, kalau konsumsi sebagian besar per rumah tangga, kalau dikalikan rata-rata satu rumah tangga kategori miskin di Bali terdiri dari 4,13 anggota jadi kebutuhan per rumah tangga miskin Rp2.655.532,” ujar Agus Gede.

Adapun komoditas yang memberi sumbangan terhadap garis kemiskinan terbesar di perkotaan adalah kelompok makanan yaitu beras, disusul rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, dan kue basah.

Untuk kelompok bukan makanan adalah perumahan, bensin, upacara adat, listrik, dan pendidikan.

Di pedesaan komposisinya hampir sama, pada kelompok makanan disumbangkan oleh beras, daging ayam ras, rokok kretek filter, telur ayam ras, dan mujair dan yang bukan makanan adalah perumahan, bensin, upacara agama, listrik, dan kesehatan.

“Ini bukan yang menyebabkan orang Bali jadi miskin, ini adalah kebutuhan dasar masyarakat Bali yang memiliki kontribusi besar, selain ini ada banyak lagi,” ujar Agus Gede.

Meskipun masih terdapat 3,42 persen penduduk miskin, BPS Bali menemukan tingkat ketimpangan pengeluaran antar-penduduk turun 0,02 poin atau menjadi 0,333 poin dari 0,353.

“Ekonomi kita tumbuh 5,82 persen, kemiskinan kita turun, ternyata ketimpangan kita September 2025 mengalami penurunan, ini menggambarkan ketiganya mengalami perbaikan,” kata Agus Gede.

Ketimpangan 0,333 poin ini juga tercatat lebih rendah dari gini rasio nasional yang sebesar 0,362 poin.

“Jadi ekonomi tumbuh ternyata mampu dinikmati oleh sebagian besar masyarakat termasuk kelompok bawah, itu kenapa kemiskinan turun dan ketimpangan turun di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang cukup impresif,” sambungnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bali I Wayan Wiasthana Ika Putra mengatakan kondisi ini menggambarkan hasil kerja keras bersama dalam membangun Bali.

Namun hasil penghitungan makro ini masih harus diperdalam secara mikro yaitu mencari tahu di mana titik kemiskinan masih terjadi.

“Nanti kami cek juga DTSN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional)-nya, kemiskinan itu ada di mana itu kita intervensi dengan program dan kegiatan yang tepat,” pungkas Ika.

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari

Editor : Ardi Irawan


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2026