Dua kampus yakni Universitas Primakara Bali dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten berkolaborasi menggelar konferensi internasional yang membahas material berkelanjutan.

Anggota Kelompok Ahli (Pokli) Gubernur Bali Bidang Digital dan Ekraf I Made Artana di Denpasar, Kamis, mengatakan, dari konferensi ini ditargetkan peserta dapat melahirkan riset material terutama yang saat ini menjadi isu di Bali, yaitu material pembentuk kemasan air minum ramah lingkungan.

“Bali sekarang sedang ribut tentang sampah, targetnya mudah-mudahan dari puluhan jurnal ada tentang pengembangan material yang bisa terurai dengan cepat. Di Bali kan Pak Gubernur mengeluarkan pembatasan air minum kemasan di bawah satu liter,” kata dia.

Made Artana yang juga Rektor Universitas Primakara itu menyebut ada 70 lebih peserta dari berbagai universitas di Indonesia berpartisipasi pada konferensi Broad Exposure to Sains and Technology (BEST) 2025 ini, di mana mereka akan mendapat materi dari pakar untuk selanjutnya menghasilkan karya ilmiah.

Di tengah tantangan Pemprov Bali menyelesaikan masalah sampah, menurut Artana, ilmu tentang bahan material ini menjadi penting mengingat yang diulas adalah material berkelanjutan untuk lingkungan. Sehingga, kedua kampus sepakat memfasilitasi lewat konferensi internasional.

Dekan Fakultas Teknik Untirta Prof. Jayanudin mengatakan, untuk kasus sampah di Bali riset mengenai material biodegradable dilihat paling sesuai.

“Ini diskusi ilmiah ilmu tentang bahan, dan ada biodegradable material untuk kemasan yang bisa terdegradasi atau biopolimer, misalnya bahan alam yang digunakan,” ujarnya.

Melihat material berkelanjutan merupakan ilmu yang penting di era ini, BEST 2025 memilih topik ini untuk mengembangkan penelitian-penelitian terbaru untuk kehidupan berkelanjutan.

Selain biodegradable, ilmu soal biomedical material atau bahan medis juga diulas.

“Makanya kami undang spesialis biomedical material dari Jepang. Tahun ini dari penemuan terbaru material lumayan banyak apalagi sekarang lebih fokus ke material bersifat bio, gencar dikembangkan,” kata Prof Jayanudin.

Kolaborasi dua perguruan tinggi ini dilakukan untuk memadukan keilmuan teknik dengan teknologi digital. Kampus meyakini disiplin keilmuan yang berbeda ini justru akan memperkaya ide mengenai pengembangan material di era perubahan yang sangat cepat.

Untuk mendukung riset dari peserta nantinya, Untirta dan Universitas Primakara mendatangkan peneliti Tohoku University, Jepang, Prof. Takayuki Narushima dan tokoh BRIN, Yenny Meliana.

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari

Editor : Widodo Suyamto Jusuf


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2025