Batam (Antara Bali) - Masyarakat pesisir Batam mengharapkan Lomba Perahu Jong yang sudah digelar enam kali di Pantai Kampung Melayu bisa menjadi ikon wisata sekaligus pelestarian budaya yang hampir punah di kawasan itu.
"Setiap tahun kegiatan ini sukses mendatangkan pecinta perahu Jong dari berbagai wilayah di Provinsi Kepulauan Riau, Riau. Bahkan Singapura juga sering mengikuti perlombaan ini," kata tokoh pecinta perahu Jong Batam, Arifn Madiun, di sela-sela pagelaran perahu Jong, di Pantai Kampung Melayu, Minggu.
Ia mengatakan, masyarakat yang masih ingin melestarikan Perahu Jong sangat berharap Dinas Pariwisata Kota Batam bersedia mengangkat kegiatan ini menjadi salah satu ikon wisata budaya.
"Perlombaan perahu Jong menjadi ajang temu nelayan Melayu saat tidak melaut karena cuaca buruk, sekaligus untuk melestarikan budaya," kata dia.
Kalau budaya Perahu Jong tidak didorong menjadi ikon budaya, kata dia, dalam beberapa tahun ke depan bisa punah.
"Saat ini generasi muda hanya sedikit yang mau melestarikannya. Kami sangat khawatir budaya ini akan benar-benar ditinggalkan," kata dia.
Arifin mengatakan, agar pagelaran Perahu Jong di Pantai Kampung Melayu tambah meriah selalu disisipkan budaya lain seperti Reog Ponorogo, Tari Dangkung, dan beberapa kesenian daerah lain.
Perahu Jong merupakan perahu mainan dari kayu dengan layar dari kain atau plastik aneka warna yang biasa dimainkan oleh nelayan Melayu saat mereka tidak melaut karena angin kencang (LHS)
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2013
"Setiap tahun kegiatan ini sukses mendatangkan pecinta perahu Jong dari berbagai wilayah di Provinsi Kepulauan Riau, Riau. Bahkan Singapura juga sering mengikuti perlombaan ini," kata tokoh pecinta perahu Jong Batam, Arifn Madiun, di sela-sela pagelaran perahu Jong, di Pantai Kampung Melayu, Minggu.
Ia mengatakan, masyarakat yang masih ingin melestarikan Perahu Jong sangat berharap Dinas Pariwisata Kota Batam bersedia mengangkat kegiatan ini menjadi salah satu ikon wisata budaya.
"Perlombaan perahu Jong menjadi ajang temu nelayan Melayu saat tidak melaut karena cuaca buruk, sekaligus untuk melestarikan budaya," kata dia.
Kalau budaya Perahu Jong tidak didorong menjadi ikon budaya, kata dia, dalam beberapa tahun ke depan bisa punah.
"Saat ini generasi muda hanya sedikit yang mau melestarikannya. Kami sangat khawatir budaya ini akan benar-benar ditinggalkan," kata dia.
Arifin mengatakan, agar pagelaran Perahu Jong di Pantai Kampung Melayu tambah meriah selalu disisipkan budaya lain seperti Reog Ponorogo, Tari Dangkung, dan beberapa kesenian daerah lain.
Perahu Jong merupakan perahu mainan dari kayu dengan layar dari kain atau plastik aneka warna yang biasa dimainkan oleh nelayan Melayu saat mereka tidak melaut karena angin kencang (LHS)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2013