Denpasar (Antara Bali) - Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali mulai tahun depan akan mengembangkan 40 unit pola pertanian terintegrasi yang tersebar pada delapan kabupaten dan satu kota di daerah itu.
"Pola pengembangan pertanian tersebut digarap secara terpadu oleh instansi teknis, dengan memprioritaskan desa-desa yang warganya 35 persen lebih masih menyandang predikat miskin," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Wayan Badra Wismaya di Denpasar, Selasa.
Ia mengatakan, pengembangan pertanian terintegrasi yang digagas Gubernur Bali Made Mangku Pastika sebagai upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani itu mendapat dukungan dari APBD Bali.
"Pola tersebut dalam tahun 2009 sudah dibuatkan proyek percontohan pada sepuluh lokasi dengan dukungan dana sebesar Rp2 miliar atau masing-masing unit sebesar Rp200 juta," tutur Wayan Badra.
Ia menjelaskan, dengan adanya proyek percontohan itu, kegiatan serupa yang digarap tahun depan diharapkan tidak menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti.
"Petani sebelum mengembangkan pola pertanian terintegrasi itu terlebih dahulu bisa melihat dari dekat aktivitas petani dalam mengembangkan pola terpadu, baik menyangkut sektor peternakan, perkebunan, perikanan maupun mengembangkan tanaman sela," ujar Wayan Badra.
Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, daerah ujung timur Pulau Bali merupakan salah satu dari sepuluh proyek percontohan pengembangan pertanian terintegrasi yang digarap dalam tahun 2009.
Sembilan proyek percontohan lainnya dikembangkan pada tujuh kabupaten lainnya sebagai upaya pengentasan kemiskinan umumnya sudah terlaksana dengan baik, berkat dukungan dan kerja keras masyarakat dan petani di daerah masing-masing, tutur Wayan Badra.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika berharap, rintisan pengembangan pertanian terintegrasi mampu menyeimbangkan antara perkembangan pariwisata yang berkembang pesat di Pulau Dewata dengan bidang pertanian.
Selain itu mampu mengajak anak-anak muda kembali tertarik menggeluti sektor pertanian, karena penghasilan yang diperolehnya tidak kalah dengan gaji seorang karyawan hotel berbintang atau sektor lain yang selama ini menjadi rebutan.
Ia mencontohkan, seorang sarjana sosial politik usia 28 tahun asal Desa Petang, Kabupaten Badung yang menggeluti bidang pertanian dengan memelihara 1.000 ekor sapi, sanggup menampung 37 pekerja.
Anak muda itu dari pengolahan kotoran sapi untuk dijadikan pupuk organik setiap harinya menghasilkan Rp10 juta. Penghasilan yang cukup besar itu didasarkan atas perhitungan kotoran sapi dari 1.000 ekor itu sebanyak enam ton, yang diolah dan dikemas sedemikian rupa setiap kilogramnya laku Rp4.000.
Penghasilan yang cukup besar itu belum lagi dari penggemukan sapi yang setiap bulannya menjual 150 ekor, yang setiap ekornya dengan berat badan rata-rata 400 kg, tutur Gubernur Pastika. (*)
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2009
"Pola pengembangan pertanian tersebut digarap secara terpadu oleh instansi teknis, dengan memprioritaskan desa-desa yang warganya 35 persen lebih masih menyandang predikat miskin," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Wayan Badra Wismaya di Denpasar, Selasa.
Ia mengatakan, pengembangan pertanian terintegrasi yang digagas Gubernur Bali Made Mangku Pastika sebagai upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani itu mendapat dukungan dari APBD Bali.
"Pola tersebut dalam tahun 2009 sudah dibuatkan proyek percontohan pada sepuluh lokasi dengan dukungan dana sebesar Rp2 miliar atau masing-masing unit sebesar Rp200 juta," tutur Wayan Badra.
Ia menjelaskan, dengan adanya proyek percontohan itu, kegiatan serupa yang digarap tahun depan diharapkan tidak menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti.
"Petani sebelum mengembangkan pola pertanian terintegrasi itu terlebih dahulu bisa melihat dari dekat aktivitas petani dalam mengembangkan pola terpadu, baik menyangkut sektor peternakan, perkebunan, perikanan maupun mengembangkan tanaman sela," ujar Wayan Badra.
Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, daerah ujung timur Pulau Bali merupakan salah satu dari sepuluh proyek percontohan pengembangan pertanian terintegrasi yang digarap dalam tahun 2009.
Sembilan proyek percontohan lainnya dikembangkan pada tujuh kabupaten lainnya sebagai upaya pengentasan kemiskinan umumnya sudah terlaksana dengan baik, berkat dukungan dan kerja keras masyarakat dan petani di daerah masing-masing, tutur Wayan Badra.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika berharap, rintisan pengembangan pertanian terintegrasi mampu menyeimbangkan antara perkembangan pariwisata yang berkembang pesat di Pulau Dewata dengan bidang pertanian.
Selain itu mampu mengajak anak-anak muda kembali tertarik menggeluti sektor pertanian, karena penghasilan yang diperolehnya tidak kalah dengan gaji seorang karyawan hotel berbintang atau sektor lain yang selama ini menjadi rebutan.
Ia mencontohkan, seorang sarjana sosial politik usia 28 tahun asal Desa Petang, Kabupaten Badung yang menggeluti bidang pertanian dengan memelihara 1.000 ekor sapi, sanggup menampung 37 pekerja.
Anak muda itu dari pengolahan kotoran sapi untuk dijadikan pupuk organik setiap harinya menghasilkan Rp10 juta. Penghasilan yang cukup besar itu didasarkan atas perhitungan kotoran sapi dari 1.000 ekor itu sebanyak enam ton, yang diolah dan dikemas sedemikian rupa setiap kilogramnya laku Rp4.000.
Penghasilan yang cukup besar itu belum lagi dari penggemukan sapi yang setiap bulannya menjual 150 ekor, yang setiap ekornya dengan berat badan rata-rata 400 kg, tutur Gubernur Pastika. (*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2009