Berita Terkait
Singaraja (Antara Bali) - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Buleleng, Bali menerapkan sistem penanaman padi Legowo 21 untuk peningkatan produksi gabah petani.

Keterangan tersebut disampaikan Pelksana Tugas (Plt) Distanak Buleleng, Putu Mertha Jiwa, kepada ANTARA, Rabu, terkait sistem penanaman Tandur Jajar yang selama ini digunakan para petani.

"Ada peningkatan hasil yang sangat drastis dan bisa memperbanyak produksi gabah untuk menuju ketahanan pangan," ujar Jiwa.

Dikatakan, pada sistem Legowo 21 jumlah rumpun yang bisa ditanam bisa mencapai 300 ribu dalam tiap hektare sawah. Sementara, dalam sistem penanaman padi Tandur Jajar, jumlah rumpun maksimal yang bisa ditanama hanya 250 ribu rumpun padi.

Menurutnya, sistem Legowo 21 merupakan sistem penyerapan cahaya matahari yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan tanaman padi. Sehingga, makin banyak sinar yang bisa di serap, semakin bagus tingkat pertumbuhan padi.

Dimana, intensitas maksimal bisa didapatkan padi pada sistem Legowo 21 yang jarak penanamannya berbeda cukup signifikan dengan jarak yang ada pada pola penanaman sistem Tandur Jajar.

Dijelaskan, jarak tanam pada sistem Legowo 21 memang cenderung memiliki kerapatan yang lebih dibandingkan dengan jarak penanaman yang menggunakan sistem Tandur Jajar.

"Jaraknya lebih dekat sepuluh sentimeter dari pada jarak penanaman sistem Tandur Jajar yang biasanya sampai 20 atau 25 sentimeter," ujar Jiwa ketika dikonfirmasi terkait ukuran jarak antar satu dengan lainnya.

Menurutnya, perbedaan baris juga terlihat dalam pola penanaman yang menggunakan sistem Legowo 21 dengan sistem Tandur Jajar seperti pada baris kosong yang berada di tiap dua baris tanaman padi.

"Baris kosong tersebut merupakan pintu masuk cahaya dengan memberikan ruang yang lebih renggang dibanding Tandur Jajar," ucapnya.

Jiwa menambahkan, baris-baris kosong yang ada ditiap dua baris tanaman juga berguna untukpPenyerapan cahaya agar lebih bebas dan bisa maksimal memberikan panas ke sela-sela tanaman.

Sehingga, lanjutnya, untuk posisi yang benar pada cara penanaman yang menggunakan sistem Legowo 21, harus berpatokan pada arah sirkulasi matahari yang bergerak dari timur ke barat.

"Cahaya yang masuk bisa langsung diserap tanpa penghalang dari baris padi yang cenderung meminimalisir intensitas cahaya ke daun. Disamping itu, tiap sisi daun bisa menyerap cahaya dengan rata," kata dia.

menurut Jiwa, sistem tersebut sudah mulai diterapkan pada 11.070 lahan pertanian yang ada di kawasan Kabupaten Buleleng dan hasilnya cukup bisa memberikan peningkatan dari yang sebelumnya.

Biasanya, hasil yang diperoleh dengan menggunakan sistem Tandur Jajar hanya berkisaran antara jumlah prosentase lima sampai sepuluh persen daripada hasil panen yang menggunakan sistem Legowo 21 yang bisa mencapai lebih dari sepuluh persen, imbuh Jiwa saat diminta perbadingan hasil dari perbedaan penggunaan sistem penanaman padi.

Dikatakan, pada tahun 2008 yang masih menggunakan sistem penanaman padi Tandur Jajar, hasil panen hanya bisa mencapai angka 125.088 Ton gabah. Namun, setelah dilakukan pergantian sistem penanaman menggunakan Legowo 21, hasil yang dicapai dari 23.299 hektare lahan panen, cukup mencapai peningkatan yang sangat drastis yakni 149.895 Ton gabah.

"Ada peningkatan angka persentase dari yang semulai 12,38 persen ditahun 2008, dan di tahun 2009 mencapai peningkatan 19,91 persen," ucap Jiwa yang mengharap ada peningkatan hasil agar bisa menutupi kekurangan gabah yang saat ini masih disubsidi dari luar Kabupaten Buleleng. (*)

Editor: Masuki
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar