Bangli (Antara Bali) - Wisata "tracking" Gunung Batur, Kabupaten Bangli, Bali, diminati para wisatawan asing dengan rata-rata setiap hari sebanyak 20 turis melakukan pendakian ke gunung tersebut.
"Hingga saat ini, pendakian ke Gunung Batur oleh wisatawan asing terus meningkat. Setiap harinya sekitar 20 orang wisatawan asing memanfaatkan wisata tracking ini," kata Ketua Perhimpunan Pramuwisata Pendakian Gunung Batur (P3GP) I Nyoman Alit Adiana di Bangli, Jumat.
Ia menjelaskan, Gunung Batur mempunyai sejumlah keistimewaan yang tak dimiliki gunung lainnya. Pemandangan saat matahari terbit merupakan daya tarik yang sangat diminati wisatawan asing, sehingga mereka betah dalam pendakian.
"Selain 'sunrise', para wisatawan juga dapat menikmati panorama Gunung Rinjani yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Memasak air dengan belerang di gunung Batur akan menjadi kenangan pendakian yang sering tak dilupakan wisatawan," ujar Alit meyakinkan.
Untuk melihat momen matahari terbit dari Gunung Batur, kata Alit, keberangkatan pendakian harus dimulai pukul 04.00 Wita. Pendakian membutuhkan waktu 1,5 jam sejauh 1 KM dengan rute mulai dari Pura Jati atau Toya Bungkah. Jika perjalanan itu tepat waktu, maka pendaki akan bisa menikmati indahnya matahari terbit.
Ia menambahkan, pantangan dalam pendakian, selain tak boleh kotor (leteh), paling penting diperhatikan apabila Gunung Batur sedang berstatus waspada. Jika, status waspada muncul, kami tidak berani mengajak tamu untuk naik kepuncak.
"Untuk itu, sebelum kami naik ke gunung, kami berkoordinasi dengan pihak vulkanologi Gunung Batur, sehingga kami tahu keadaan gunung sebelum berangkat," ujarnya.
Selain keindahan matahari terbit yang ditawarkan, lanjut Alit, wisatawan juga dapat menikmati keindahan objek wisata di sekitar seperti Pura Ulun Danu, mata air panas Desa Toyabungkah, Desa Trunyan, salah satu desa kuno yang berada di tepian Danau Batur.
"Khusus bagi pegiat sastra, peminat sejarah maupun sekadar pencari inspirasi, bisa berkunjung ke tempat yang sering digunakan beristirahat oleh tokoh Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisjahbana, di Desa Toyabungkah," ujarnya.
Di Desa Toyabungkah itu, kata Alit, tersedia belasan hotel melati dengan fasilitas yang lumayan. Biaya sewa kamar untuk bisa ditempati dua orang hanya Rp300.000 per malam. Bagi yang menginginkan suasana yang alami, bisa juga menyewa tenda dari hotel setempat dan kemudian berkemah di area hotel yang menyediakan lokasi untuk berkemah.(*)
Editor: Masuki
COPYRIGHT © 2013
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com