Berita Terkait

Denpasar (Antara Bali) -  Pemerintah Kota Denpasar, Bali kembali menggelar lomba "Ogoh-ogoh" atau boneka raksasa dalam rangka menyambut tahun baru Caka 1932, pada 15 Maret 2010.


"Lomba Ogoh-ogoh itu akan diikuti oleh Sekaa Teruna (kelompok pemuda) se-Kota Denpasar, sebagai bentuk pelestarian dan ajang kreativitas seni budaya Bali," kata Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, di Denpasar, Selasa.


Pada tatap muka dengan Sekaa Teruna itu, ia mengatakan, digelarnya lomba "Ogoh-ogoh" merupakan bagian dari bentuk perhatian pemkot dalam menyikapi perkembangan kreativitas masyarakat, khususnya para remaja.


Oleh karena itu, kata dia, pihaknya harus mampu memberi ruang yang lebih luas kepada para remaja untuk dapat berekspresi dengan menuangkan segala ide dan kreativitasnya.


"Bahkan beberapa kreativitas yang berbasis budaya unggulan sudah mampu ditunjukkan para remaja Denpasar, antara lain melalui kegiatan lomba layang-layang serta olah raga tradisional seperti 'metajog, mecingklak, gale-gale' dan lainnya," kata Rai Mantra.


Hal itu sangat membanggakan, sebab memasuki dunia persaingan seperti sekarang ini identitas jati diri daerah memiliki arti yang amat penting, ucapnya.


Untuk itu, Rai Mantra menaruh harapan kepada kaum muda agar bisa mendorong kreativitas budaya pada masyarakat luas.


"Saya mengajak generasi muda untuk selalu kreatif dengan berbagai rancang inovasi, dan kami siap memfasilitasi," ujarnya.


Dalam kesempatan itu, wali kota menyerahkan uang pembinaan sebesar Rp3,5 juta kepada masing-masing Sekaa Teruna yang akan tampil dalam lomba Ogoh-ogoh tersebut.


Sementara Majelis Desa Pekraman Denpasar Made Karim mengatakan, keberadaan Sekaa Teruna memiliki peran dan fungsi yang sangat strategis dalam kehidupan bermasyarakat.


Menurutnya, Sekaa Teruna merupakan generasi penerus keberlangsungan desa adat di Bali dalam upaya melestarikan budaya leluhur atau nenek moyang.


"Kami sangat mendukung kreativitas para generasi muda dalam upaya pelestarian budaya Bali," ucapnya.


Ketua Listibiya Denpasar Komang Astita menjelaskan mengenai teknis pelaksanaan lomba "Ogoh-ogoh" termasuk persyaratannya, yang antara lain harus mampu mencerminkan karya seni, namun tidak dalam wujud yang mengesankan pornografi.


"Penilaian akan dibagi dua tahap, yaitu untuk tingkat kecamatan masing-masing akan diambil tiga juara, selanjutnya wakil kecamatan tersebut akan dinilai pada pengarakan Ogoh-ogoh di perempatan Catur Muka (Catus Pata) Denpasar," katanya. 


Ia mengatakan, lomba yang sempat vakum ini merupakan ajang kreativitas seni dan budaya yang dipadukan dengan kegiatan ritual keagamaan.


"Lomba semacam ini harus lebih banyak digelar, sehingga kaum muda akan terus beraktivitas dalam pengembangan seni budaya," kata Astita yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.(*)

Editor: Masuki
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar