Tabanan (Antara Bali)- Bubu alat tradisional yang terbuat dari anyaman bambu untuk menangkap ikan maupun udang, lebih efektif dibandingkan dengan perangkat lainnya yang digunakan di perairan laut Kabupaten Tabanan, Bali.

"Selain lebih efektif, bubu yang hanya diletakkan sedemikian rupa di antara hamparan batu karang, juga diketahui sangat ramah lingkungan," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlaut) Tabanan, I Nyoman Wirna Ariwangsa, di Tabanan, Rabu.

Ia menyebutkan, berbeda dengan alat penangkap ikan lain seperti jaring, kerap diketahui dapat merusak atau mengusik posisi terumbu karang di bagian dasar laut.

Masalahnya, lanjut dia, bagian ujung atau mata jaring yang ditebar nelayan tidak jarang tersangkut pada hamparan terumbu karang, sehingga terjadi kerusakan.

Sehubungan dengan itu, pihak Diskanlaut Tabanan lebih menyarankan kepada para nelayan untuk selalu menggunakan bubu dalam menangkap ikan, terutama satwa yang selama ini banyak menghuni terumbu karang, seperti udang lobster, katanya. 

"Kami akan terus masyarakatkan bubu sebagai alat tangkap lobster, dan ini perlu didukung dan disebarluaskan oleh berbagai pihak karena bubu jauh lebih ramah lingkungan," ucapnya, menjelaskan.

Ariwangsa menyebutkan, terumbu karang merupakan habitat lobster dan aneka biota laut lainnya. Mengingat itu, unsur flora di laut ini harus tetap dilestarikan keberadaannya.

"Bila terumbu karang selalu terpelihara, maka aneka jenis ikan dipastikan dapat berkembang biak dengan lebih optimal, sehingga hasil tangkap nelayan juga bisa lebih meningkat," katanya.

Sementara Ketua Koperasi Nelayan Dharma Murti (KNDM) Banjar Yeh Gangga, Tababan, I Nengah Widia, mengemukakan, KNDM yang berdiri sejak tahun 1962, belakangan ini menggunakan perangkat bubu dalam menangkap ikan di perairan laut Tabanan.

"Anggota kami yang kini telah mencapai 80 orang lebih, selalu berupaya memperhatikan kelestarian lingkungan. Untuk menangkap udang lobster yang semula menggunakan jaring, saat ini semuanya sudah beralih menggunakan bubu," ujar Widia.

Dengan menggunakan bubu, hasilnya justru lebih melimpah. "Setiap tahun, kelompok kami berhasil menangkap lobster berkisar antara 10 hingga 13 ton," katanya, menambahkan.

Disebutkan, masing-masing anggota koperasi kini memiliki bubu lobster antara 20-30 buah, yang harga perbuahnya mencapai Rp80 ribu.

Hal senada diungkapkan Dewa Made Bakuh, anggota KNDM yang sudah menggunakan bubu bambu sejak setahun lalu. Menurut Bakuh, pemakaian alat tangkap dari anyaman bambu itu hasilnya cukup menguntungkan, karena setiap bubu yang dipasang di laut rata-rata bisa menghasilkan satu sampai dua kilogram lobster per hari.

"Hasilnya lumayan, bahkan bila sedang musim lobster bisa mencapai 16 kilogram per bubu," ujarnya sambil tersenyum.

Dibanding menggunakan jaring, menurutnya, lebih menguntungkan menggunakan bubu. Jika memakai jaring, selain hasilnya tidak menentu, juga cepat rusak dan hilang terbawa arus.

"Sedangkan bila menggunakan bubu bambu, selain harganya murah juga lebih awet, dan hasilnya lebih memuaskan," katanya. (*)

Editor: Masuki
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar