Berita Terkait
Oleh I Ketut Sutika

Seorang remaja putri berwajah ayu mengenakan baju kebaya menyolok serasi dengan kain sarung motif keemasan yang dikenakan saat tampil di atas pentas memeriahkan pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIV di kompleks Taman Budaya Denpasar.

Rambut panjang terurai dihiasi  bunga cempaka putih dan kuning serta "gegelungan", perhiasan kepala yang dibuat sedemikian rupa khas Pulau Dewata lebih menambah keanggunan serta kecantikan sang penari.

Diiringi alunan suara tingklik, musik instrumen gamelan tradisional yang terbuat dari bahan bambu, para penari tampil gemulai dengan mengumbar senyum yang mengundang kegairahan penonton, terutama ana-anak muda sehingga tidak mengherankan setiap pentas tari joged mampu menyedot pengunjung aktivitas seni tahunan di Pulau Dewata.

Itulah joged, tari sosial (pergaulan) yang cukup populer di Pulau Bali yang mampu menjadi penyedot pengunjung, sehingga primadona kedua setelah penampilan gong kebyar wanita, tutur pengamat seni yang juga dosen Institut Seni Indonesia, I Kadek Suartaya, SS Kar MSI.

Suasana pementasannya sangat akrab dan jauh dari kesan formalitas. Penonton yang terdiri kalangan anak-anak muda umumnya berharap dapat menari bersama, dalam bahasa daerah setempat disebut "Ngibing".

Penonton duduk atau berdiri berdesakan melingkari arena pentas. Mereka menanggil-manggil penari joged agar datang dan menyentuhkan kipas kepadanya sebagai undangan untuk menari bersama.

Tontonan joged bersifat partisipatif, seperti halnya tarian pergaulan sejenis di daerah lain seperti Jaipongan di Jawa Barat (Jabar) atau Ganrung di Banyuwangi, Jawa Timur. Aktivitas atau antusiasisme tinggi diperlihatkan oleh penonton kawula muda, termasuk wisatawan yang sedang berliburan di Pulau Dewata.

Penonton pria yang diundang (pengibing) menari dan bergoyang bersama penari joged. Selama sebulan PKB berlangsung, 10 Juni-9 Juli 2012 menampilkan sembilan sekaa joged bumbung, hasil seleksi terbaik dari delapan kabupaten dan kota di Bali.

Sanggar Seni Taksu Agung, Pejeng Kanginan, Kecamatan Tampaksiring mewakili duta seni Kabupaten Gianyar, yang tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Denpasar, pekan lalu mampu menarik perhatian pengunjung PKB.

"Tari Joged Bumbung sebenarnya bukanlah tari yang menonjolkan kesan sensual tetapi seni dan hiburan. Hal itu tergantung reaksi antara penonton dan penari," tutur Koordinator Sanggar Seni Taksu Agung, Anak Agung Gede Agung.

Untuk menepis kesan erotis pada tarian tradisional itu, pihaknya selalu memberikan pembinaan dan penekanan kepada para penari untuk membatasi gerak tari agar penampilan dalam bingkai etika, sopan, namun mampu menyuguhkan unsur keindahan.

"Kesan seni dan estetika setiap penampilan tetap menjadi acuan karena disaksikan penonton dari semua golongan umur mulai anak-anak, remaja, orang dewasa hingga orang tua," ujarnya.

Dikritik

Sekaa Joged Kuwum Mambal, Kabupaten Tabanan yang tampil sebelumnya yang mampu menyedot ribuan pengunjung PKB mampu menyuguhkan hiburan yang disambut antisias penanton, namun dikritik oleh tim evaluasi PKB yang diketuai I NYoman Cerita SST MFA.

Sekaa joged yang menampilkan empat penari wanita bersama sejumlah pengimbing itu mampu mengundang gelak tawa penonton, berkat memperkaya materi gamelan dengan memasukkan instrumen dari luar seperti dari kesenian Sunda.

"Joged tari kreasi baru itu tidak cocok untuk ditampilkan dalam PKB, karena aktivitas seni tahunan itu ingin mengembalikan pakem-pakem joged seperti semula yang original, berkelas dan bermartabat," ujar Nyoman Cerita yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI Denpasar.

Ia menilai jika joged bumbung dipengaruhi banyak unsur dari luar seperti Sunda dikhawatirkan kesenian itu akan kehilangan identigas dan ciri khas.

Sekaa joged masing-masing duta seni dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali yang tampil memeriahkan PKB  mempersiapkan dirinya secara matang dengan harapan  mampu tampil terbaik dibanding sekaa joged lainnya.

I Wayan Darna, seorang penari "pengibing" mengaku, sangat senang bisa ikut serta menari dengan penari ooged,  karena gerakannya penuh dengan canda maupun  kedipan matanya yang binal.

Ia mengaku mempunyai kesenangan  "ngibing", rasanya kurang puas jika tidak dapat menari bersama sang joged saat menonton pementasan tersebut.

Melihat banyak yang ingin "mengibing", begitu pementasan dimulai sengaja memilih tempat duduk paling depan dengan harapan diundang penari untuk menari bersama, tuturnya.

Menurut Kadek Suartaya, SS Kar MSI pengamat seni dan dosen ISI Denpasar, tari joged di Bali sudah berlangsung sejak lama secara turun temurun, meskipun belum diketahui secara pasti  kapan tari pergaulan itu muncul dan siapa pula yang menciptakannya.

Ketika zaman raja-raja berkuasa di Bali, seperti halnya daerah lain di Nusantara sekitar tahun 1881, seorang raja di Bali menampilkan lima penari joged bumbung untuk menghibur tamunya.

Kelima penari joged itu merupakan  "koleksi" pribadi sang raja. Mereka menari diterangi lampu minyak kelapa. Dalam keremangan malam, sinar lampu itu menyorot kain yang dikenakan sang penari, dengan ukuran ketat dan pendek.

Diiringi alunan gamelan yang lirih dan terkesan lincah, sang penari dengan "nakal" melirik tajam tamu-tamu sang raja yang memperhatikan setiap geraknya.

Dr Jacobs, seorang ahli medis Belanda ketika mengunjungi Bali pada zaman kerajaan, menulis laporannya dalam sebuah buku yang menguraikan, penari joged pada waktu itu selesai pentas, mendekati tamu-tamu raja.

Sebelumnya seorang ilmuwan Belanda, Van Eck tahun 1880 juga sempat membuat catatan tentang kesenian joged yang disaksikan lewat pementasan sebuah pesta rakyat di Bali.

Pada zaman kerajaan di Bali, kesenian joged dikuasai oleh sang raja dan kaum bangsawan. Bahkan diduga antara joged dan perseliran (Wanita simpanan) mempunyai interaksi yang sangat erat.

"Joged milik kaum bangsawan harus setia dan siap mengabdi serta mentaati semua perintah raja. Begitu pula bila sang raja ingin menyenangkan tamu-tamunya dengan suka cita akan  menampilkan penari joged kesayangannya," tutur Kadek Suartaya.

Namun, sejak penjajah Belanda menguasai nusantara, termasuk Bali "perseliran" dilarang, joged tidak lagi menjadi kesenian para bangsawan, namun berkembang bebas di luar tembok kerajaan.

Joged yang sekarang berkembang dan populer di kota maupun  pelosok pedesaan Pulau Dewata, merupakan perkembangan lanjutan dari lunturnya kejayaan sang raja.

Dipandang miring

Kadek Suartaya yang kesehariannya bergelut mencetak kader-kader penerus seni budaya Bali, melihat dalam perkembangan masyarakat Bali modern, penari joged masih dipandang miring, meskipun kehidupan seorang penari joged seperti zaman feodal dulu tidak ada lagi.

Artis joged umumnya wanita yang baru menginjak remaja, bahkan hampir tidak ada penari joged yang sudah membentuk rumah tangga. Oleh sebab itu, seorang wanita Bali untuk memutuskan menjadi  penari joged yang profesional, mesti melewati berbagai pertimbangan yang matang.

Seniman yang menikmati pendidikan formal khususnya mendalami bidang seni tari seperti ISI Denpasar tidak seorangpun yang terjun menggeluti jenis tarian joged.  

Padahal seorang penari joged tidak menuntut keterampilan tari yang tinggi. Wajah yang relatif cantik menjadi modal utama untuk menjadi seorang penari joged.

Penari  joged agar disegani penonton dan bisa menjadi populer merubah gerak-gerak (pakem) tari joged menjadi gerak yang erotis mengudang kegairahan kaum pria. Padahal gerak erotis itu tidak sesuai dengan tatanan tari Bali yang diwarisi secara turun temurun.

 "Tari joged ibarat mengandung unsur bisnis, moral dan budaya," tutur Kadek Suartaya seraya menambahkan, hal itu harus disadari jika sepenuhnya sekaa joged hanya berpatokan pada "pakem" tari Bali tidak mampu lagi mengundang kegairahan penonton untuk menyaksikan, padahal pada sisi lain tari itu mengandung unsur bisnis dan menciptakan lapangan kerja.

Cara-cara seperti itu terpaksa dilakukan sekaa agar lebih populer dengan target makin banyak tanggapan dari masyarakat, buntutnya orientasinya materi seperti ini membuat joged dinilai miring atau  tarian sensual yang "mengenyampingkan" moral.

Namun tidak semua sekaa berorientasi seperti itu, khususnya kesenian joged yang tampil di arena PKB, karena sebelumnya telah mendapat pembinaan dengan mengedepankan nilai-nilai moral, tradisi,  aturan dan etika yang tidak tertulis tentang bagaimana praktek joged pergaulan  yang sesungguhnya, tutur Kadek Suartaya.(IGT/T007)

Editor: Masuki
COPYRIGHT © 2013

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar