Berita Terkait
Oleh  I Ketut Sutika
Denpasar (Antara Bali) - Belasan bahkan ratusan remaja putri dan ibu rumah tangga utusan dari berbagai organisasi wanita maupun perorangan di delapan kabupaten dan satu kota di Bali adu keterampilan membuat rangkaian janur, bunga dan kombinasi kue dan aneka jenis buah-buahan.

Lantai satu gedung Ksiarnawa Taman Budaya Denpasar itu penuh sesak dalam salah satu kegiatan lomba membuat gebogan, yakni rangkaian janur, bunga dan kombinasi kue dan aneka buah-buahan dalam memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 tahun 2011 pada bulan Juni-Juli lalu, aktivitas seni tahunan yang digelar secara berkesinambungan.

Salah satu kegiatan yang dimotori Tim Penggerak PKK Provinsi Bali yang diketuai Nyonya Ayu Pastika itu, para peserta harus menggunakan bahan-bahan lokal, termasuk aneka jenis buah-buahan.

Kegiatan lomba membuat gebogan, yang biasa dilakoni remaja putri dan ibu-ibu rumah tangga saat piodalan di tempat suci keluarga (Merajan) maupun pura di masing-masing desa adat, dirintis 1978 sejak PKB pertama yang dikonsep Prof Dr Ida Bagus Mantra, budayawan yang juga Gubernur Bali saat itu.

Selama 33 tahun berlangsung, kegiatan itu mampu melahirkan gebogan dari awalnya yang hanya bentuk sederhana kini menjadi sebuah karya yang mengandung unsur seni dan estetika.

Gebogan dibuat di atas dulang yang ditata sedemikian rupa, dengan kombinasi aneka jenis buah lokal, kue, nasi, dan ayam panggang sebagai hiasan, di samping janur dan bunga yang ukurannya dibuat bervariasi mulai dari tinggi setengah meter sampai satu meter.

Dulang adalah suatu alat yang dibuat dari bahan kayu dengan bentuk bundar pada bagian atas semakin kecil ke bawahnya hingga sebesar ukuran kepala, sehingga pas saat dijunjung oleh para wanita maupun remaja putri, tutur Nyoya Ketut Winaya, pensiunan PNS yang lebih dari 30 tahun mengabdikan diri pada organisasi PKK Provinsi Bali.

Bahkan saat suaminya dipercaya menjadi Bupati Bangli, dia pun sangat aktif membina kader-kader PKK terutama yang akan mewakili Kabupaten Bangli dalam kegiatan tingkat Provinsi Bali, dan hampir setiap tahun dia kini terlibat dalam lomba PKB yang melibatkan peserta wanita, termasuk lomba membuat gebogan.

Lewat lomba gebogan PKB itu menurut Nyonya Winaya setiap remaja putri dan wanita Bali  termotivasi untuk bisa membuat gebogan, jika tidak mau "dilecehkan" oleh mertuanya setelah membentuk rumah tangga.

Gebogan yang terbuat dari bahan aneka jenis buah-buahan kombinasi dengan kue, janur dan bunga menjulang di atas dulang itu dibuat setiap piodalan.

Dalam setiap enam bulan, dia bisa membuat lima atau enam kali gebogan, yakni untuk keperluan piodalan di rumah tangga (merajan) tiga kali piodalan masing-masing di Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem serta untuk Hari Raya Galungan dan Kuningan, hari besar umat Hindu dalam memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

Setiap membuat gebogan, dibutuhkan biaya sesuai dengan ukuran dan banyaknya jenis buah-buahan yang digunakan. Gebogan yang ukuran sedang paling tidak membutuhkan dana Rp300.000, mengingat harga buah-buahan, meskipun buah lokal juga mahal, tutur Ni Made Martini yang akrab disapa Men Sutapa, asal Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan.

Meskipun biaya yang dikeluarkan tidak sedikit setiap piodalan, namun semua warga, termasuk yang kurang mampu bisa melakoninya. Pura di mana pun di Bali setiap piodalan dipenuhi dengan ratusan bahkan ribuan gegoban, karena setiap satu kepala keluarga membuat sebuah gebogan.

Gebogan itu seusai dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, buah-buahan, kue dan ayam panggang bisa mereka nikmati bersama anggota keluarganya. Oleh sebab itu masyarakat Bali dalam mengonsumsi buah mempunyai fungsi ganda, yakni untuk kelengkapan ritual, setelah itu baru dimakan.

Beralih ke buah lokal
Wanita Bali dalam membuat gebogan atau kelengkapan ritual lainnya dalam beberapa tahun belakangan beralih dari buah impor ke penggunaan buah lokal, meskipun dalam membuatnya lebih mudah menggunakan buah impor, karena ukuran buah relatif sama, tidak seperti buah lokal, ukurannya berbeda ada yang besar dan kecil.

Oleh sebab itu membuat gebogan dengan buah lokal sedikit lebih sulit, namun bisa memberikan kepuasan tersendiri, karena apa yang dipersembahkan merupakan hasil jerih payah sendiri, tutur Men Sumiarti (42), seorang warga Banjar Ole, Marga.

Oleh sebab itu jauh sebelum piodalan atau hari raya galungan, biasanya dia sudah menyuruh suaminya, Pan Sumiarti (47), untuk memetik buah pisang di kebunnya untuk dimatangkan dengan cara "menyekeb" yakni menutup dalam satu tempat diisi daun benalu, sehingga pisang itu akan masak sesuai dengan waktu yang diinginkan.

Hal itu menunjukkan masyarakat Bali mulai memberdayakan buah lokal, meskipun buah impor masih bisa diperoleh secara mudah, baik di pasar-pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan.

Bahkan , Guru Besar Fakultas Pertanian Univeristas Udayana Prof Dr I Wayan Windia, MS, mengatakan, sekelompok kalangan intelektual di Bali sejak lama sama sekali tidak mengonsumsi buah-buahan impor, meskipun dari segi bentuk dan rasa jauh lebih baik dan enak dibanding buah lokal produksi petani setempat.

Bali sejak 1985 sudah mengajak dan mengharapkan masyarakat untuk mengonsumsi buah lokal, dan menghindari buah impor, sebagai upaya menghemat devisa negara, sekaligus mengangkat harkat dan martabat petani.

Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pertanian setempat juga berupaya mengajak kalangan hotel dan restoran untuk menyuguhkan buah lokal kepada wisatawan mancanegara yang sedang berliburan di Pulau Dewata.

Semua itu untuk menanamkan kecintaan terhadap buah lokal, sekaligus memberdayakan buah lokal agar menjadi "raja" di negara sendiri.

Oleh sebab itu mahasiswa dan Fakultas Pertanian Unud melakukan kajian dan penelitian dalam meningkatkan mutu aneka jenis buah-buahan lokal agar bisa sejajar dengan aneka jenis buah-buahan impor.

Upaya tersebut ditindaklanjuti oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Pprovinsi Bali melalui upaya pembibitan aneka jenis tanaman buah-buahan yang bermutu, antara lain jeruk, salak, durian dan aneka jenis tanaman buah-buahan lain yang bernilai ekonomis.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika sejak mengendalikan Bali 28 Agustus 2008 sangat mendukung rintisan dan terobosan yang dilakukan sejumlah hotel berbintang untuk menyuguhkan aneka jenis buah-buahan produksi petani setempat.

Upaya yang dilakukan kalangan hotel itu dinilai cukup membantu dalam pemasaran hasil pertanian, khususnya hortikultura hasil petani setempat. Beberapa kalangan hotel mulai menyuguhkan buah rambutan, salak dan markisa kepada tamunya di masing-masing kamar hotel.

Kegiatan pariwisata secara ekonomi mampu memberikan dampak yang sangat luas, tidak hanya kepada petani, namun juga terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat di Pulau Dewata.

Untuk itu ke depan perlu dibangun agar masyarakat memiliki kefanatikan akan produk lokal, sekaligus menjadi prioritas dalam memenuhi kebutuhan pangan di Bali.

Prof Windia MS menambahkan, di balik mulai gemarnya masyarakat mengonsumsi buah lokal, hasil penelitian menunjukkan, masyarakat ekonomi menengah ke atas di Bali menggunakan 0,3 pendapatannya untuk membeli aneka jenis buah-buahan impor untuk kelengkapan ritual dan konsumsi.

Itu artinya jika pendapatan masyarakat meningkat 100 persen, 30 persen di antaranya dimanfaatkan untuk membeli aneka jenis buah-buahan impor. Besarnya pengeluaran masyarakat, khususnya kalangan ekonomi menengah ke atas untuk membeli buah-buahan maupun hasil pertanian impor lainnya itu merupakan hasil penelitian dari salah seorang mahasiswanya dalam menyelesaikan studi S-1.

Oleh sebab itu perlu pengertian dan kesadaran masyarakat luas, bahwa dengan memproduksi buah lokal mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan menghembat devisa negara, tutur Prof Windia.(*)

Editor: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar