Berita Terkait
Oleh  I Ketut Sutika
Denpasar (Antara Bali) - Lahan tegalan yang tidak begitu luas itu ditumbuhi berbagai jenis rerumputan yang menghijau. Sementara kandang permanen yang dibuat sedemikian rupa dihuni puluhan sapi pejantan berbadan besar dan kekar.

Lahan seluas 3,8 hektare di Desa Pekarangan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, sekitar 60 km utara Denpasar itu, merupakan pusat produksi semen beku untuk kepentingan kawin suntik (Inseminasi Buatan-IB) pada ternak sapi, sekaligus mampu menjadikan Bali mandiri dalam memenuhi kebutuhan untuk kawin suntik.

Bali delapan tahun silam dalam melaksanakan program kawin suntik  sangat tergantung pada pasokan mani beku dari Direktorat Jenderal  Peternakan Kementerian Pertanian. Namun, sejak kehadiran  unit pelaksana teknis (UPT) Balai Pembibitan Ternak Provinsi Bali mampu menjadikan daerah ini mandiri dalam pengadaan semen beku untuk kawin suntik pada ternak sapi Bali.

"Bahkan semen beku itu mampu memenuhi seluruh kebutuhan kawin suntik pada ternak sapi di Bali maupun permintaan dari sejumlah daerah di Indonesia  sebagai upaya mempertahankan kemurnian sapi Bali, satu-satunya sumber plasmanutfah yang  menjadi aset nasional," kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali I Putu Sumantra.

Kehadiran UPT Balai pembibitan ternak itu sejak delapan tahun silam mampu memacu pembangunan subsektor peternakan, khususnya sapi Bali yang dagingnya dikenal gurih dan empuk. Lebih-lebih dengan distopnya impor sapi dari Australia, sapi Bali naik gengsi.

Pemerintah Provinsi Bali melakukan terobosan dalam meningkatkan populasi sapi Bali, dengan mengarahkan sistem pertanian terintigrasi (Simantri) menjadi pusat pembibitan ternak sapi bali yang selama ini merupakan satu-satunya sumber plasmanutfah yang menjadi aset nasional.

Dengan adanya pusat pembibitan sapi bali yang tersebar di delapan kabupaten dan satu kota Bali diharapkan sapi bali tetap dapat dilestarikan dan dikembangkan di Pulau Dewata, dengan harapan populasinya terus bertambah, sehingga mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat setempat termasuk wisatawan dalam menikmati liburan di Bali.

Komoditas itu sekaligus merupakan mata dagangan antarpulau untuk memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat di ibukota Jakarta, yang selama ini mendatangkan sapi dari Bali setiap tahun 65.000 ekor, masing-masing dengan berat 350 kg.

Simantri yang dibangun Pemprov Bali hingga kini tercatat 150 unit, masing-masing mendapat bantuan 20 ekor bibit sapi betina, dengan harapan sapi tersebut terus berkembang.

Pemprov Bali tahun 2009 membangun sepuluh unit simantri, atau meningkat menjadi 40 unit pada tahun 2010, dan meningkat lagi menjadi 100 unit dalam tahun 2011. Pemprov Bali mempunyai sasaran untuk membangun 350 unit simantri, dalam tahun 2012 dan 2013 masing-masing lagi membangun 100 unit.

Bantuan bibit sapi betina yang siap dikawinan itu seluruhnya sekitar 3.000 ekor. Dari sapi betina yang diberikan itu, ratusan ekor sudah dalam kondisi bunting dan melahirkan, sehingga nantinya mampu menjadi pusat pembibitan bagi pengembangan ternak sapi di sekitarnya.

Dalam tahun 2009 baru ada 200 ekor bibit sapi, namun sekarang sudah berkembang menjadi 270 ekor, tidak termasuk 43 ekor dalam kondisi bunting. Demikian pula untuk tahun 2010, dari 781 ekor bibit sapi sekarang sudah berkembang menjadi 873 ekor, atau sudah bernanak 92 ekor dan masih bunting 327 ekor yang akan melahirkan dalam tahun ini.

Pacu pengembangan
Bali, sebuah pulau kecil dengan luas wilayah hanya 5.632,86 km2, memiliki populasi 675.419 ekor sapi, atau meningkat rata-rata 3,41 persen per tahun, setelah dikurangi untuk perdagangan sapi antarpulau, kebutuhan hotel dan pemotongan untuk masyarakat setempat yang setiap 100.000 hingga 120.000 ekor

Dengan demikian kepadatan rata-rata 93,3 ekor setiap kilometer persegi, termasuk paling padat di Indonesia, menyusul Jawa Tengah memiliki kepadatan 68,91 ekor dan Yogyakarta 61 ekor setiap kilometer persegi.                      

Meskipun tergolong padat, menurut Kadis Putu Sumantra, populasi sapi itu masih bisa ditingkatkan menjadi lebih dari satu juta ekor, atau dua kali lipat, mengingat sistem pemeliharaan dan pengembangan ternak sapi dapat dilakukan dengan sistem ternak sapi kereman, sehingga tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas.

Sistem pengadaan pakan ternak yang mampu bertahan lama sudah dilakukan sejumlah perusahaan pengolah hijauan makanan ternak yang mengandung semua unsur, yang diperlukan dalam pertumbuhan berat badan sapi, sehingga memudahkan peternak yang memelihara lebih dari lima ekor sapi.

Peternak dalam mengembangkan usahanya sehari-hari itu tinggal mencarikan beberapa hijauan makanan ternak yang segar dicampur dengan pakan ternak yang sudah jadi. Namun kebanyakan petani di Bali memelihara sapi satu-dua ekor sebagai sambilan yang seluruhnya memanfaatkan rerumputan dan hijauan makanan ternak segar.

Oleh sebab itu beternak sapi kini tidak lagi membutuhkan lahan yang luas, kalau sebelumnya lahan 25 are hijauan makanan ternaknya cukup untuk satu ekor-dua ekor di sela-sela tanaman pertanian, namun sekarang lahan satu are (100 meter persegi) mampu memelihara 25 ekor, ujarnya.

Penggemukan sapi seperti itu, kini sudah banyak diterapkan kelompok tani ternak di Kabupaten Gianyar, Tabanan, Badung dan Karangasem, sehingga sangat memungkinkan ke depan populasi sapi akan terus berkembang, mengingat mempunyai prospek yang cukup cerah, terutama untuk memenuhi permintaan peerdagangan sapi antarpulau.

Berbagai kemudahan
Bali dalam memacu pengembangbiakan berbagai jenis ternak, khususnya sapi memberikan berbagai kemudahan kepada peternak yang terhimpun dalam wadah kelompok berupa bibit, maupun bantuan modal kerja dalam bentuk kredit tanpa anggunan dengan bunga yang relatif ringan.

Pemprov Bali lewat pengembangan sistem pertanian terintegrasi (Simantri) pada 40 unit tahun 2010 membantu seribu ekor bibit sapi betina yang siap dikawinkan, atau masing-masing unit 20 ekor, menyusul 2.000 ekor dalam tahun 2011 untuk 100 unit Simantri.

Pemprov Bali pun bekerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) setempat, dalam menyediakan kredit tanpa anggunan (KTA) sebesar Rp10 miliar selama tiga tahun, 2008-2010, hingga kini sudah terealisasi Rp7,1 miliar dan masih ada sisa Rp2,9 miliar yang diharapkan terealisasi akhir 2010 atau awal 2011.

Menurut Kadis Putu Sumantra, peternakan sapi secara perorangan maupun yang terhimpun dalam wadah kelompok  berhak mengajukan modal usaha maksimal Rp100 juta, dengan bunga yang relatif ringan.

Demikian pula Pemerintah pusat melalui Kantor Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) bekerja sama dengan BPD Bali menyediakan kredit usaha pembibitan sapi (KUPS) sebesar Rp60 miliar untuk tahun 2010  yang bisa direalisasi hingga tahun 2011.

Kredit tersebut mendapat subsidi bunga dari pemerintah pusat sebesar tujuh persen per tahun dan nasabah hanya membayar bunga lima persen per tahun  khusus untuk usaha pengembangan pembibitan ternak sapi Bali.

KUPS sebesar Rp60 miliar merupakan bagian dari program nasional dalam meningkatkan usaha pembibitan ternak sapi di Nusantara dalam mendukung pengembangan ternak sapi, sebagai upaya mendukung memenuhi kebutuhan daging dalam negeri.

Namun kredit itu tidak diperkenankan untuk pengembangan ternak sapi potong, maupun usaha peternakan lainnhya, karena dana patungan antara koperasi & UKM dan BPD Bali khusus untuk pembibitan sapi Bali. KUPS kini masih dalam tahap sosialisasi, namun sejumlah perusahaan, koperasi dan kelompok ternak di Kabupaten Bangli sudah mengajukan permohonan memanfaatkan kredit bersubsidi itu sebesar Rp4 miliar.

Dalam memacu pengembangan ternak sapi di Bali, Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian juga mengucurkan dana sebesar Rp7,83 miliar untuk program pengembangan bibit ternak sapi Bali dalam tahun 2010 yang disalurkan  kepada 18 kelompok ternak sapi, masing-masing sebesar Rp435 juta.

Kelompok masing-masing mengarahkan dana tersebut untuk membuat kandang dan pengadaan sapi betina untuk dikembangkan sebagai usaha pembibitan.

"Berbagai upaya yang telah dilakukan itu dimaksudkan untuk mendorong dan mempercepat peningkatan populasi sapi Bali, mengingat jenis matada gangan tersebut mempunyai prospek yang sangat cerah," kata Putu Sumantra.(*)

Editor: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar