Berita Terkait
Oleh  IGK Agung Wijaya

Pria bertubuh tegap berkulit kuning langsat itu terlihat santai mengenakan celana hitam kombinasi kemeja warna kebiru-biruan.

Sesekali, senyum menghiasi bibir pria yang sisiran rambutnya selalu rapih, memperlihatkan kerutan dahi dari sosok yang sudah banyak makan "asam-garam" dunia bisnis tersebut.

I Putu Arnama (39), pria kelahiran Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, adalah salah seorang pengusaha sukses yang mengendalikan sebuah perusahaan dengan beberapa unit usaha yang tersebar di Bandara Internasional Ngurah Rai di Tuban dan kawasan Nusa Dua, Kabupaten Badung.

Kesuksesan yang hingga kini diraihnya mampu menampung 450 pegawai dari usaha yang dirintisnya sejak nol, dimulai pada Juni 2001 dengan mendirikan UD Prasada, "lounge" yang bergerak di bidang jasa "reflexology" di area keberangkatan international Bandara Ngurah Rai.

"Semua modal untuk mengembangkan usaha itu bersumber dari hasil jerih payah saya sendiri, tidak seperti kebanyakan pengusaha yang memanfaatkan pinjaman bank," tutur ayah dari tiga anak itu.

Pria yang ramah dan cepat akrab dengan lawan bicaranya itu menjelaskan, awal mengembangkan usaha wiraswasta itu hanya bermodalkan semangat dan percaya diri.

Gagasan untuk mendirikan UD Prasada muncul setelah dia bekerja selama tiga tahun, 1998-2001, dalam bidang ruang tunggu eksklusif (lounge).

Hal itu didasarkan atas pemikiran bahwa Bali sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia, kunjungan wisatawan mancanegara untuk berlibur ke daerah ini semakin meningkat setiap tahun.

Dengan modal seadanya yang dikumpulkan selama tiga tahun bekerja itu, dia lantas mengembangkan usaha mandiri, yakni dengan payung UD Prasada.

Dalam kurun waktu empat tahun, usaha itu menunjukkan perkembangan cukup pesat, sehingga bisnis yang tadinya usaha dagang (UD) Prasada, ditingkatkan statusnya menjadi PT Nu Prasada sejak 2005.

Meskipun demikian, Arnawa dengan semangat tinggi dan tidak pernah merasa puas terhadap prestasi yang  diraihnya, terus mengembangkan sayap dengan mendirikan "Prada Priority Restaurant" yang berlokasi di pintu keberangkatan satu dan dua di Bandara Internasional Ngurah Rai.

Hanya berselang beberapa tahun kemudian sosok pria yang selalu merendah itu berhasil membuka kembali "Prada Priority Restaurant II"  di dekat pintu keberangkatan tujuh dan delapan Bandara Ngurah Rai.

Hal itu menunjukkan bahwa sosok Arnawa dengan dorongan istrinya tidak pernah takut terhadap persaingan bisnis, namun tampil dengan penuh  percaya diri, hingga usahanya terus berkembang dan tenaga kerja yang ditampungnya semakin bertambah banyak.

Tambah dua restoran
Arnawa terus melakukan terobosan dalam mengembangkan usaha bisnisnya, kali ini dengan membuka dua restoran sekaligus di satu gerai khusus "executive class lounge" Bandara Ngurah Rai Bali.

Setelah perusahaan sukses "berkibar" di kompleks Bandara Ngurah Rai, lalu dia memperluas usaha ke tempat lainnya di Bali, terutama tempat-tempat strategis yang ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri.

Dia pun kembali memperluas usaha dengan menambah beberapa gerai restoran di kawasan Nusa Dua, lokasi yang bergengsi bagi wisatawan itu, di antaranya "Prada Concept Store", yang menyuguhkan aneka wine, coklat dan rokok.

Setelah sukses mengembangkan usaha restoran, sosok pria yang aktif dalam organisasi kemasyarakatan itu, mulai mengembangkan usaha  supermaket, kini mengelola dua unit berlokasi di Sanur, tempat  strategis yang merupakan pusat bisnis di Pulau Dewata.

Ia menuturkan, karyawan yang ditampung dari seluruh unit usaha yang digeluti itu mencapai 450 orang. Bahkan ia tidak ragu mencoba mengembangkan bisnis properti berupa villa dan rumah toko (ruko) di kawasan Sanur, pionir pariwisata Bali.

Pria kelahiran tahun 1972 yang tadinya hanya bercita-cita menjadi pramuwisata itu telah membuat jalan hidupnya berubah total dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Lulusan Politeknik Pariwisata itu awalnya bekerja sebagai staf "ground handling" di Singapore Airlines. Tidak lama kemudian dia rajin mengikuti seminar pengembangan diri dan berpindah ke "Cathay Pacific" dengan posisi yang sama.

Arnawa yang sukses dalam mengembangkan usaha itu, selain pekerja keras juga taat bersembahyang, karena setiap kegiatan ritual, baik dalam lingkungan rumah tangga dan desa, dia selalu hadir.

Demikian pula dalam kegiatan sosial terhadap masyarakat lingkungan sekitarnya, lelaki ini tidak pernah absen. Setiap kegiatan ada orang meninggal dalam lingkungan maupun upacara adat lainnya dia selalu hadir seperti warga banjar lainnya.

Berkat rasa kebersamaan dengan warga masyarakat sekitarnya, bahkan hampir tidak ada jarak dengan warga masyarakat biasa, meskipun ia seorang pengusaha sukses.

Taat beribadah
Selain ulet dalam menjalankan bisnis sehingga berbagai bentuk usaha yang dimiliki pria necis itu mampu mencapai sukses, I Putu Arnawa juga dikenal sangat taat beribadah.

Dia selalu meluangkan waktu untuk menjalankan kewajibannya kepada Sang Pencipta di sela-sela kesibukannya. Arnawa mengucapkan rasa syukur atas anugerah dan keberhasilan yang dicapainya itu melalui persembahyangan yang rutin dilakukannya.

"Saat berdoa saya selalu bersyukur. Namun ada satu harapan lagi yang mudah-mudah bisa dikabulkan, yaitu membuat hotel yang lebih mewah," katanya.

Apabila hal itu bisa terwujud dalam beberapa tahun ke depan, Arnawa merasa benar-benar sudah menikmati hidup.

Akan tetapi saat ini pria necis itu santai saja menjalani bisnisnya, dan menikmati hasil yang telah diraihnya selama 10 tahun tersebut.

"Untuk merayakan keberhasilannya berbisnis itu, saya akan berkeliling dunia bersama keluarga dan berbagi kepada sesama," ujarnya.(*)

Editor: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar