Berita Terkait
Oleh I Ketut Sutika
Denpasar (Antara Bali) - Kesehariannya sangat sederhana dan terkesan pendiam, namun pembawaan itu akan berubah total saat tampil di atas pangung, menari maupun menabuh mengiringi olah gerak tari yang lincah.

Cokorda Rai (59), pria kelahiran  Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, 31 Desember 1952 itu, dikenal sebagai seniman serba bisa, mulai dari tari Gambuh, tari topeng, arja,  hingga gong kebyar yang ngetren dalam beberapa tahun belakangan.

Selain itu memiliki keahlian dalam mengumandangkan ayat-ayat kitab suci agama Hindu, antara lain kekawin, kekidung dan menembangkan lagu daerah Bali lainnya yang secara iklas "ditransfer" kepada mereka yang berminatnya.

Pria yang masih enerjik pada usia "senja" itu memiliki keahliann yang paling menonjol  memainkan berbagai jenis gamelan, khususnya penabuh reong.

Ia pada usia sepuluh tahun, yakni tahun 1962 sudah ikut memperkuat sekaa gong SMPN II Klungkung sebagai penabuh reong, salah satu instrumen musik tradisional untuk pentas kehadapan masyarakat umum.

Kemampuan untuk tampil di hadapan masyarakat umum itu berkat pembinaan yang dilakukan secara intensif oleh Ida Bagus Gede dari Desa Dawan, Klungkung.

Bahkan dalam usia 15 tahun, Cokorda Rai muda sudah mampu melatih gong gabungan di Desa Nyalian yang diberi nama sekaa gong LSD Desa Nyalian pada tahun 1965. Berkat kepiawaiannya dalam bidang seni, khususnya tari dan tabuh, masyarakat lingkungannya mengenal sosok sederhana itu sebagai seniman serba bisa.

Cokorda Rai mengabdikan seluruh jiwa raganya untuk seni, tanpa mengharapkan imbalan dan balas jasa. Berkat dedikasi dan pengabdiannya secara berkesinambungan tanpa pernah putus sejak usia muda itu memperoleh piagam penghargaan dari Pemprov Bali sebagai seniman tua, terkait pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 tahun 2011.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Ketut Suastika, SH, sosok Cokorda Rai merupakan salah seorang dari sembilan seniman di Pulau Dewata yang mempunyai prestasi, dedikasi dan pengabdian yang menonjol dalam menggali, membina dan mengembangkan seni budaya Bali di tengah impitan budaya global.

Atas prestasinya itu mendapat piagam penghargaan dan uang sebesar Rp6 juta yang diserahkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika bersama delapan seniman lainnya di sela-sela pelaksanaan PKB.

Delapan seniman lainnya terdiri atas I Wayan Kalam (63) pengabdian dalam seni arja dari Banjar Gaglangan, Desa Brembeng, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, I Gede Sukraka, SST, M.Hum (83), menekuni bidang seni tari dari Kota Denpasar.

Dewa Putu Gorda (60) menekuni seni tari dari Banjar Yeh Kuning, Kabupaten Jembrana,  Anak Agung Ayu Sasih (60) menekuni seni tari dari kota Amlapura, Kabupaten Karangasem dan I Ketut Suweca (78) menekuni seni tari dari Kelurahan Kapal, Kabupaten Badung.

Demikian pula I Ketut Gemuh (66) menekuni seni lawak dan drama gong dari Desa Grokgak, Kabupaten buleleng, I Nengah Mogag, menekuni seni arja dari Banjar Penatahan, Kabupaten Bangli dan Anak Agung Gede Rai Swadnya (73), menekuni seni drama dari Pejeng, Kabupaten Gianyar.

Dinas Kebudayaan Bali membentuk satu tim terdiri dari instansi terkait  untuk menyeleksi usulan calon penerima penghargaan dari kabupaten/kota, sehingga mereka yang lolos seleksi itu betul-betul mengabdi untuk seni, ujar Ketut Suastika.

    
Cetak seniman penerus

Sosok  Cokorda Rai memiliki kepiawaian luar biasa dalam bidang seni tabuh dan tari dan masyarakat sekitarnya mengenal sangat pemurah, karena  dengan senang hati  melatih anak-anak muda dan mereka yang berminat belajar dan menekuni tabuh dan tari Bali.

Hingga saat ini tidak terbilang entah berapa ratus bahkan ribuan kader penerus penari dan penabuh gamelan Bali "lahir" dari sentuhan tangan terampil Cokorda Rai.

Meskipun usianya lebih dari setengah abad, namun kesehatan fisiknya tetap prima itu, memang sejak usia kanak-kanak sangat menyenangi seni dan tari, khususnya gamelan.

Tidak mengherankan, jika pria itu  sejak kecil akrab dengan permainan gamelan,   Berkat keberaniannya yang luar biasa pentas di hadapan masyarakat umum dalam lingkungan banjarnya, sering kali dijuluki seniman dan dipercaya membina sekaa kesenian di berbagai daerah di Kabupaten Klungkung, termasuk Nusa Penida, sebuah Pulau yang terpisah dengan daratan Bali, namun secara administratif masuk wilayah Kabupaten Klungkung.

Kemantapan dalam penguasaan berbagai jenis tari dan tabuh mengantarkan dirinya menjadi seorang seniman  yang berbobot dan mewariskan keahlian itu kepada generasi berikutnya.

Cokorda Rai tidak hanya mampu menjadi seniman tabuh  yang andal, namun juga seorang pendidik dan pembina seni yang sukses.

Sejumlah sekaa kesenian yang pernah dibinanya antara lain  Sekaa Gong Desa Bumbungan (1968), Sekaa Gong Banjar Bale Agung (1970), Sekaa Gong Desa Tohpati (1973), Sekaa Gong di berbagai banjar di Nusa Penida (1973-1982).

Setelah itu kembali membina sekaa gong di Kabupaten Klungkung antara lain di Desa  Pekandelan (1983), Desa Nyalian (1984), Sekaa Gong Dadia Manikam Banjar Kapit , Desa Nyalian (1985), membina Sekaa gong di Banjarangkan (2010), membentuk Sekaa Gong anak-anak di Banjar Pekandelan (2010) dan terakhir awal 2011 membentuk Sekaa Semar Pagulingan di rumahnya sendiri yang diberi nama Genta Pinara Pitu.(*)

Editor: Masuki
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar