Rabu, 20 September 2017

Istri Rektor ISBI Papua Dikremasi pada Sabtu (9/9)

| 1.090 Views
id kremasi, dosen isi denpasar, ISI, ISI Denpasar, ISBI Papua
Istri Rektor ISBI Papua Dikremasi pada Sabtu (9/9)
Istri dari Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Papua Prof Dr. I Wayan Rai S, yakni Dr I Gusti Ayu Srinatih SST MSi (60), yang meninggal dunia pada Minggu (3/9/2017). (IST)
Kampus kehilangan Dr I Gusti Ayu Srinatih SST MSi yang merupakan dosen panutan. Selama ini, almarhumah merupakan salah seorang dosen terbaik di bidang penciptaan dan pengkajian seni tari dan juga salah satu dosen terbaik di ISI Denpasar
Denpasar (Antara Bali) - Istri dari Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Papua Prof Dr. I Wayan Rai S, yakni Dr I Gusti Ayu Srinatih SST MSi (60), akan dikremasi jenazahnya di Krematorium Dawan, Klungkung, Bali pada Sabtu (9/9).

"I Gusti Ayu Srinatih yang juga dosen ISI Denpasar itu mengembuskan napas terakhir dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Ganesha, Gianyar pada hari Minggu (3/9) pukul 19.05 wita," kata Prof Rai di kediamannya di Angantaka, Kabupaten Badung, Kamis.

Ia mengatakan, almarhumah pada hari Minggu itu masih memasak di dapur dan sekitar pukul 13.00 Wita ke kamar mandi, lalu lama tidak keluar hingga dilihatnya terjatuh di kamar mandi.

"Ibu mengembuskan napas terakhir dalam perawatan intensif yang ditangani oleh tim dokter selama tujuh jam. Rencananya, kremasi jenazahnya akan dilakukan pada Sabtu (9/9)," ujarnya.

Sementara itu, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof Dr I Gede Arya Sugiartha SSKar MHum, mengaku, civitas akademika ISI Denpasar berduka dengan perginya salah seorang dosen terbaik pada Program Studi Tari itu.

"Kampus kehilangan Dr I Gusti Ayu Srinatih SST MSi yang merupakan dosen panutan. Selama ini, almarhumah merupakan salah seorang dosen terbaik di bidang penciptaan dan pengkajian seni tari dan juga salah satu dosen terbaik di ISI Denpasar yang cukup aktif menciptakan karya, termasuk Tari Selat Segara yang sering digunakan dalam penyambutan di ISI Denpasar," katanya.

Karakter almarhumah dikenal tegas untuk mengajarkan disiplin dan memotivasi mahasiswa. Itu sebabnya, banyak mahasiswa yang menyukai gayanya saat menjadi dosen maupun di luar itu.

"Beliau orangnya memang tegas, terutama dalam mewujudkan majunya lembaga. Ini terlihat dari bagaimana beliau membimbing mahasiswa. Begitu juga dalam menciptakan karya seni sebagai koreografer," katanya.

Almarhumah meninggalkan seorang suami, dua anak dan dua cucu dari kedua putranya yang telah membentuk rumah tangga.

Prof Arya mengaku terakhir bertemu dengan almarhumah seminggu lalu, saat sama-sama menguji mahasiswa Pascasarjana (S2). Kala itu, almarhumah masih sempat bercerita dengannya.

"Sejak saat itu tidak dapat ketemu lagi karena libur panjang waktu itu mulai hari Jumat (1/9), tiba-tiba Minggu (3/9) ditelepon Prof Rai kalau Ibu sudah tiada," katanya, mengenang.

Padahal, saat ini almarhumah sedang menyiapkan satu buah karya Tari Legong Kreasi, namun rencana Tuhan ternyata lain, karena dosen terbaik itu harus berpulang kepada-Nya pada usia 60 tahun.

"Sebenarnya Ibu mau menciptakan satu Tari Legong kreasi baru. Konsepnya sudah selesai, tinggal menuangkan saja. Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu. Kami merasa sangat kehilangan. Kedepan akan ada karya yang kita terbitkan untuk mengenang kepergian beliau," ujar Arya Sugiartha. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga