Senin, 21 Agustus 2017

Gubernur Bali Minta Penegakan Hukum Penyebar "Hoax"

| 814 Views
id HUT pwi, pwi bali, Persatuan Wartawan Indonesia, pemprov bali
Gubernur Bali Minta Penegakan Hukum Penyebar
Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat peringatan HUT ke-71 Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Bali di Denpasar. (Humas Pemprov Bali)
Denpasar (Antara Bali) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta supaya ada penegakan hukum yang tegas bagi pembuat dan penyebar "hoax" atau berita bohong, karena hanya hal itu yang dinilai bisa membuat pelakunya menjadi kapok.

"Akun tidak jelas itu (pembuat hoax-red) mungkin perlu dipersoalkan siapa itu, kita cari orangnya, karena mungkin bisa diidentifikasi dari berita-beritanya. Ini saya kira tugas kepolisian, intelijen yang mencari," kata Pastika di sela-sela Peringatan HUT ke-71 Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Bali di Denpasar, Senin.

Menurut orang nomor satu di Bali itu, "hoax" yang "termakan" oleh masyarakat sangat berbahaya karena dapat menimbulkan ketidakstabilan, gangguan keamanan, keresahan masyarakat dan sebagainya.

"Kita cuma bisa bersandar pada hukum. Maaf orang Indonesia hanya takut dengan hukum, sehingga hukum harus benar-benar serius, tegas, dan keras," ujarnya.

Pastika menegaskan dirinya tidak bermaksud mengekang dan memasung kebebasan orang berekspresi, namun kebebasan itu jangan sampai disalahgunakan sehingga menimbulkan kekacauan.

"Jangan sampai tatanan kedamaian yang sudah kita pegang, yang sudah capek-capek kita pelihara bersama, tiba-tiba hancur oleh berita yang tiba-tiba viral dan ternyata bohong," ucapnya.

Oleh karena itu, mantan Kapolda Bali tersebut sangat berharap supaya dapat ditertibkan akun-akun media sosial penyebar berita bohong.

Dia berpandangan, selama ini orang berani membuat dan menyebarkan berita bohong karena orang boleh membuat akun palsu. Tentu kalau menggunakan akun dengan identitas sebenarnya, orang tidak akan berani membuat hoax.

Pastika sangat berharap masyarakat Bali tidak mudah percaya begitu saja dengan hoax. "Yang paling ngeri, hoax yang berkaitan dengan SARA, masalah agama, masalah kepercayaan, masalah kesehatan, masalah keamanan. Ini sangat bahaya kalau hoax itu sampai menjadi viral," katanya.

Terkait dengan peringatan HUT yang dirangkaikan dengan Deklarasi Jaringan Wartawan Anti Hoax itu, dia mengatakan upaya menghentikan berita bohong tersebut tidak cukup hanya sebatas kegiatan seremonial tersebut jika tanpa dibarengi kesadaran masing-masing.

"Saya praktis saja, janganlah kita menipu diri kita sendiri," ucap Pastika sembari mengakui sudah beberapa kali juga menjadi korban dari berita bohong yang dibuat oleh oknum tak bertanggung jawab. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2017